Karena tinggal di lingkungan Jakarta Barat, dan banyak warga Betawinya, jadi aku lebih mengenal masakan Betawi daripada masakan Jawa. Dan kalau bulan puasa tiba, waaahhh... pesta kuliner menanti. Di pinggir jalan akan berjejer lapak-lapak penjual takjil dadakan, yang mencari rezeki di bulan baik ini. Sebagai anak kecil yang puasanya bolong-bolong, mengejar takjir itu sudah jadi kesenangan sendiri. Mungkin bahasa anak sekarang tuh, war takjil, ya. Asinan Betawi, lontong dengan bumbu kacang dan kerupuk kuningnya. Uhhh! Belum lagi kolak dan jajanan Betawi alias Jakarte punya itu, sudah cocok banget di lidah aku dan Kala. Kalau Bapak dan Ibu yang punya darah Jawa asli, masih menjunjung lidah orang Jawa. Senengane manganan dan wedangan manis-manis.
Dan yang namanya tinggal di gang, setiap sahur, pasti akan terbangun dengan sendirinya, oleh rombongan anak-anak yang membunyikan kentungan, sambil membawa obor. Biasanya awal-awal puasa mereka rajin sekali membangunkan. Tapi setengah bulan puasa, rombongan kentungan itu sudah jarang terdengar. Dan senangnya kalau bulan puasa, sekolah banyak liburnya dan hanya setengah hari.
TOK TOK TOK-TOK TOK TOK!!!
“Sahur, sahur! Sahur, sahur!”, pasukan kentungan melewati rumah kami, dengan panggilan sahur yang bernada dan berirama. Berarti waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Saat itu imsak tepat pukul 04.30 dini hari. Yang pertama kali bangun ya sudah pasti Ibu. Lanjut Bapak. Nanti Bapak membangunkan aku dan Kala. Kalau masalah dibangunkan, aku tidak sesulit Kala. Kala itu gebluk banget! Kalau tidur bisa pulesnya minta ampun. Kami tidur satu kamar dengan kasur yang terpisah. Kamarnya hanya disekat dengan tirai, sementara pintunya hanya satu. Aku dan Kala tidur di ranjang 2 in 1 yang bisa dikeluarkan dan dimasukkan lagi bila tidak digunakan. Aku diatas, Kala dibawah. Ketika dewasa aku berpikir, betapa kasihannya kedua orang tuaku yang harus sekamar dengan kami. Pastilah sulit untuk menunaikan kewajiban, karena takut kami mengintip, hehehe. Tapi di usia sekecil itu, aku sama sekali nggak mengerti apa itu hubungan suami istri. Sangat polos dan nggak mau tahu aja. Beda dengan anak zaman sekarang yang tumbuh dewasa lebih cepat, dan mengerti banyak hal, termasuk hal yang saru untuk dibahas.
“Bu, nanti aku puasa boleh setengah hari, gak?”, tanya Kala setengah sadar, karena masih mengantuk.
“Puasa aja belum, kok udah mikirin buka!”, jawab Bapak sambil menyantap makanan sahur saat itu. Sayur tempe tahu lombok ijo, dengan kuah santan, andalan Ibuku kalau mau masak cepat. Dan syukurnya, aku bisa lahap makan sayur lombok ijo saat sahur tiba.
“Yang penting niat, dek! Niat! Baru juga hari ketiga. Udah gitu sekolahkan libur, gak perlu kecapekan”, kataku setengah menggurui. Ibu menuangkan teh manis ke dalam gelas belimbing disebelah kami.
“Yang puasanya penuh, nanti dikasih hadiah sama Bapak. Iya kan, Pak?”
“Lho, sopo sing kondo? Puasa itu harus ikhlas! Lillahi ta’alla”
“Ya Pak, tapi masa gak ada hadiahnya?”, kata Kala setengah merengek. “Teman-teman seumurunku masih jarang yang puasa. Kok, aku udah disuruh puasa, sih?! Kan aku sunat aja belum?!”, ujarnya dengan polos. Spontan aku mengangguk, mengiyakan perkataan Kala. Aku menatap Bapak dan Ibu bergantian, menunggu jawaban dari mereka.
“Ya walaupun kamu belum akhil baliq, tapi tetap harus belajar puasa! Kan dari dulu juga Bapak Ibu udah ajarin kamu puasa. Setengah hari gak apa-apa. Tapi baiknya seharian, ya?”
“Lagian kamu memang udah siap disunat, dek?”, tanya Ibu sambil menatap Kala serius. Yang ditatap malah terlihat ketakutan. GLEK! Makanan di mulutnya langsung ditelan secepat kilat.
“Eh gak Bu, gak! Aku belum siap! Aku takut! Aku takutttt”, kata Kala sambil berlarian ke kamar, sambil membawa piringnya. Disitu aku langsung tertawa menatap Kala.