Dari kecil, aku tuh memang anak yang suka banget jajan. Karena di dekat rumah banyak sekali warung-warung rumahan yang menjual banyak jajanan bocil. Dan aku paling tertarik dengan jajanan seperti balon tiup atau permen cicak yang ditempel di dinding, karena sering ada hadiahnya. Dan hadiah paling nampolnya itu, piring cantik -yang menurut aku nggak ada cantik-cantiknya itu- hehehe. Suatu hari aku jajan di warung dan beli permen cicak. Aku buka kertas yang di gulung dalam permen cicak, dan ternyata aku dapat.... piring cantik! Karuan saja aku senang dan membawa ke rumah.
Tapi ternyata Ibu lebih senang. Aku dikasih uang lagi dan disuruh beli permen cicak lagi. Aku bingung dan tanya ke Ibu,
“Hah? Buat apa, Bu? Kan udah dapat satu? Emang bisa dapat lagi?!”
“Yo koe coba meneh. Kali ae lagi beruntung, iso dapat piring meneh. Apik lho ki, Ndis, piringe”, kata Ibu sambil melap piringnya. Lalu Ibu mengeluarkan secarik uang dan memberikan ke aku. “Sana beli lagi. Beli loro sisan”, kata Ibu yang maksudnya aku disuruh membeli dua lagi. Aku sih senang-senang aja, karena permen cicak memang kesukaanku. Dengan semangat 45, aku jalan lagi ke warung dan membeli 2 permen cicak.
Dan ternyata benar dugaan Ibu. Aku mendapat satu piring cantik lagi, dan pensil! Abang yang punya warung sampai mengucapkan selamat dan bilang, “Beruntung banget lo, cil! Dapat piring sampai 2 kali”. Aku tersenyum dan bilang terima kasih. Aku berlarian menuju rumah. Di depan rumah aku sudah memanggil Ibu dengan nada kencang.
“Ibu aku dapat lagi! Aku dapat piring lagi!”. Ibu langsung berhamburan keluar dan mengusap kepalaku.
“Weh, nduk. Beruntung tenan koe. Tak kandani opo toh!”, ujar Ibu dengan wajah sumringah. Kala yang sedang tidur siang, sampai terbangun dan menghampiri kami berdua.
“Ada apa sih Bu, Kak? Kok heboh banget?!”
“Aku abis beli permen cicak, dapat piring cantik 2. Kata Ibu aku beruntung banget!”
“Iya lho, kamu kan sering dapat hadiah-hadiah begitu di warung. Dari kecil-kecil bisa jadi besar!”, kata Ibu sambil melap piringnya, lagi dan lagi.
Kala meneguk air minum. Segelas air putih habis diminumnya. “Ya Bu, begitu aja dibilang beruntung. Kalo kita jadi orang kaya tuh, baru beruntung!”
“Sshhh!! Kala, Kala. Koe ngertine opo, toh! Kalo kamu jadi orang kaya, makanya, sekolah sing rajin. Ngaji sing tekun. Orang sukses gak ada yang males!”, jawab Ibu dengan nada serius. Aku mencibir ke arah Kala yang kuanggap iri saat itu. Tiba-tiba Ibu terdiam, dan terbelalak melihat jam dinding.
“Baru jam setengah 4! Masih sempat koyoe, Ndis!”