Sudah sebulan lamanya Bapak pindah kerja ke tempat baru. Kantor periklanan juga, tapi kali ini lebih dekat dari rumah. Kalau dulu kantor Bapak letaknya di daerah Setiabudi, kali ini kantor barunya ada di daerah Duta Merlin, dekat dengan kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Lebih dekat dengan Grogol. Ibu pernah cerita, gajinya lebih tinggi dari kantor lama. Dan posisi Bapak disini sudah senior. Kami ikut senang. Apalagi sejak kerja di kantor baru, Bapak suka bawa kue dan roti kesukaan kami, yang dibeli di ruko Duta Merlin. Dan kata Ibu, Bos Bapak di kantor baru itu orang Bule yang sudah lama mendirikan perusahaan disini.
Makin kagum dan hormat deh sama Bapak. Seorang pekerja keras, panutan. Bapak yang galak tapi baik hatinya. Pandai dalam hal matematik dan juga pelajaran lain. Dan sekarang, punya pekerjaan baru. Dan karena sudah tidak di kantor lama, jadi Bapak nggak dapat pinjaman mobil kantor lagi. Mobilnya dikembalikan, dan tidak lama Bapak membeli mobil bekas antik, Toyota Corona. Suka mobil antik bukan karena hobi ya, tapi budgetnya yang cocok adanya disitu. Tapi apapun mobilnya, kita selalu senang. Mau mobilnya nggak ada AC-nya. Mau mobilnya suka mogok atau bau karpet belum kering, kami tetap menikmati. Dan setiap beli mobil baru tapi bekas, Bapak dan Ibu pasti ajak kami jalan-jalan. Muter-muterin jalanan juga kami senang. Dan di hari libur itu, kami jalan-jalan ke Kebon Binatang Ragunan.
Dan itu pertama kalinya aku dan Kala ke Ragunan. Kalau Bapak Ibu dulu waktu muda pernah kesitu. Katanya sambil pacaran, hehehe. Sebagai pecinta hewan, aku senang sekali dibawa kesana. Dan setiap ada binatang pasti aku lempar makanan, dari beli di kios Bonbin. Dan tidak lupa kami berfoto-foto dengan kamera SLR Bapak. Menambah koleksi memori lagi dalam kehidupan. Dan setiap foto yang diabadikan, pastilah dicetak oleh Bapak, dan dipasang di album oleh Ibu. Dan ketika kami dewasa dan melihat album foto itu, rasanya bahagiaaaa sekali! Tidak perlu merasakan liburan ke luar negeri untuk memiliki kebahagiaan ini. Cukup ke Ancol, Ragunan, pentas tari Bali di Taman Mini, semua sudah lebih cukup untuk kami.
*****
Suatu hari dari balik kamar kami mencuri dengar alias menguping obrolan Bapak dan Ibu.
B : Bu, Bosku mau ajak aku keluar negeri”
I : Hah, opo iyo toh Pak? Tenanan?”
B : Ya bener, masa bohong?!”
I : Neng endi, Pak? Sing-gapur, toh? (dengan Jawanya yang medok)
B : Lha Bu, Bu... Singapur tuh dekat, ngapain mesti woro-woro, heboh! Ke A-ME-RI- KAAA!!
I : Hah AMERIKA?? Tenanan? Tenanan Pak?
Dan begitulah Ibu. Heboh sekali ketika tahu Bapak akan diajak Bosnya ke Amerika. Begitupun aku dan Kala yang diam-diam langsung tos karena Bapak mau ke Amerika.
“Kala! Bapak mau ke Amerika!”, kataku dengan nada berbisik sambil menggoyangkan kedua bahu Kala.
“Iya, Kak! Amerika. Yang banyak orang bulenya itu, kan?!”
“Ih! Namanya diluar negeri ya banyak orang bulenya!”, aku mencuibit Kala karena gemas. Lalu aku mengambil buku Atlas yang ada di dekat ranjangku. Terkadang, kebiasaanku sebelum tidur memang senang sekali melihat Atlas, melihat seluruh dunia. Mungkin di alam bawah sadarku, aku ingin sekali bisa keliling dunia. Makanya buku Atlas selalu ada di dekat ranjangku. Aku membuka Atlas dan menunjukkan negara Amerika ke Kala.
“Ini Amerika! Negara Amerika. United States of America”, kataku dengan bahasa Inggris sok fasih. “Yang ada patung Liberty-nya”. Kala mengangguk-angguk, sambil menunjuk peta di buku Atlas.
“Ini Indonesia. Ini Amerika. Jauh ya Kak. Keliatannya aja kayak dekat, pasti jauh itu”
“Ya pasti jauhlah!”
Dan setelah menguping itu, esoknya aku bertanya ke Ibu, apa benar Bapak mau ke Amerika. Ibu malah bingung, dari mana kami bisa tahu. Setelah aku cerita kami menguping, Ibu cuma berkata,
“Oalaahh kamu berdua itu suka nguping ya! Ra elok kui”
“Ya Bu, orang kedengeran. Kan kita gak sengaja. Bu, ke Amerika-nya kemana, sih? Amerika kan luas, Bu?”, tanyaku kepo alias mau tahu banget. Ibu yang sibuk membersihkan deretan kaset di rak, memandang aku serius.
“Koyoe ke Las Vegassss”, jawab Ibu dengan S nge-gas. “Koyoe... Yo dongake ae tenanan”, tambahnya agak tidak yakin. Ya Bu, semoga. Pasti Bapak senang banget kalau sampai bisa ke Amerika. Di keluarga kami, dan juga keluarga besar Bapak saat itu, belum pernah ada yang keluar negeri sampai sejauh itu. Setahu aku, Om-ku paling jauh dinasnya ke Jepang. Pasti jadi pride sendiri untuk Bapak. Dan setelah itu aku baru tahu, kalau kota Las Vegas itu pusatnya judi di Amerika dan dunia. Hah? Ngapain juga Bapak ke tempat perjudian, batinku bingung. Ibu hampir pasangin aku SDSB aja, dia was-was banget. Kok, ini malah mau ke pusat judi dunia?
*****