Malam itu kami dikumpulkan Bapak di meja makan, tempat satu-satunya yang agak nyaman untuk mengobrol ber-empat. Bapak bilang, kantormya akan pindah ke daerah Kebayoran Lama dan Bintaro, Jakarta Selatan. Sepertinya tidak memungkinkan kalau Bapak masih tinggal di Grogol, karena jarak yang ditempuh lumayan jauh. Dan Bapak juga Ibu juga punya rencana punya rumah lebih besar dengan lingkungan yang lebih baik. Bapak bilang rumah baru kita nanti di perumahan atau komplek. Komplek yang masih tergolong baru. Dan baru ada puluhan rumah disana.
Aku dan Kala langsung semangat mendengarnya. Saat itu bayanganku kalau kita akan jadi orang kaya! Impian aku dan kami semua tentunya. Walaupun nanti kenyataannya, tidak semanis mimpi muluk kami saat itu. Di satu sisi aku senang akan pindah rumah, di lain sisi aku sedih, karena harus berpisah dengan lingkungan yang sudah membangun masa kecilku ini. Dan yang namanya perpisahan, pastilah diiringi dengan derai air mata. Berpisah dengan Bu Indun dan tetangga lain. Dengan Bu Rima guru mengaji kami, sampai ke pedagang warung tempat aku sering jajan. Jajan permen cicak dan kue sagunya. Ke teman-teman sekolahku, Novi dan yang lain.
Hari Sabtu itu kami memilih untuk pindahan. Menghampiri satu persatu tetangga dan berpamitan dengan mereka, diiringi dengan derai air mata. Ibu bilang, nanti kita pasti akan main kesini lagi. Kami satu persatu masuk ke mobil. Memaksakan duduk ber-empat di depan, sementara di mobil belakang penuh dengan perabot rumah. Dan saat meninggalkan rumah pinggir rel masa kecilku, kami melewati kios SDSB yang ternyata buka dan dipenuhi banyak orang untuk mencari sesuatu bernama keberuntungan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membawa sebagian barang yang kami miliki, dan sebagian lagi sudah dibawa dengan truk. Walaupun saat itu usiaku belum dewasa, tapi aku sudah mengerti betapa beratnya berpisah dengan orang-orang yang aku kenal. Sepanjang jalan seperti mengenang masa-masa bahagia dan sedihku selama tinggal disana. Dan setiap aku mengenang masa indah, rasanya aku ingin tumpahkan semua tangisku. Selama aku mengenang semua itu, aku merasa kenapa nggak sampai-sampai juga ke rumah baru kami. Sejam kami di jalan dan juga belum sampai. Aku sampai bingung dibuatnya.
“Pak, kita pindah kemana sih? Kok nggak sampai-sampai?”
Bapak menjawab santai sambil menyetir. “Nanti juga kamu tahu”. Tapi semakin aku penasaran, semakin aku malah nggak mau tahu. Kenapa daerahnya jauh sekali, dan kanan kiri terlihat rawa dan rerumputan lebat yang tidak terurus. Ini sebenarnya daerah mana sih, batinku mulai resah. Kok, kayaknya dari tadi nggak kelihatan pagar rumahnya.
Dan akhirnya, setelah ditempuh hampir 2 jam – dengan durasi normal- sampailah kami di rumah baru. Rumahnya masih belum selesai direnovasi. Pagarnya masih pagar besi tua dan berkarat. Jadi, Bapak membeli rumah ini dengan over kredit, karena pemilik sebelumnya tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya. Jadi Bapak adalah pemilik kedua. Buatku itu nggak masalah. Tapi kenapa daerahnya sepi sekali? Sepanjang perjalanan juga jalannya belum terlalu mulus, masih banyak jalan berlubang. Tapi herannya, Kala bisa tertidur pulas, dan sampai kami sampai, dia masih tertidur.