Esok harinya kami sibuk menata perabot yang kemarin sore datang. Aku merapikan barang-barang di kamarku, dan Kala merapikan miliknya yang diletakkan di kamarnya. Kamar ini nampak lega, karena ternyata barang-barangku hanyalah sedikit. Aku mengambil map berwarna putih transparan. Aku buka dan melihat koleksi kertas suratku yang masih rapi. Aku menghirupnya dalam-dalam, karena aku memang menyukai wangi kertas surat.
Ketika di Grogol dulu, setiap dapat jatah uang jajan, sebisa mungkin aku sisihkan untuk membeli kertas surat. Dekat rumah, dekat jalan raya dan salon yang pernah ‘memangkasku’ dengan paksa, ada toko ATK atau Alas Tulis Sekolah berdiri disana. Toko ATK Subur Makmur – yang menurutku namanya seperti nama Toko Bangunan hehehe- yang menjual banyak peralatan dan perlengkapan sekolah. Tapi kertas surat-lah yang selalu menarik perhatianku. Sama sekali bukan untuk menulis surat dan mengirim ke sahabat pena, tapi hanya untuk dikoleksi dan dicium wanginya. Aku paling senang membeli kertas surat seri Sanrio. Gambar Hello Kitty, Keroppi, My Melody, My Twin Stars. Pokoknya keluarga Sanrio adalah kecintaanku saat itu. Kadang kita bertukar kertas surat dengan teman-teman sekolah dan rasanya senang menambah koleksi baru. Ada juga sticker lucu-lucu dan menggemaskan. Untuk anak seumurku yang tinggal di gang sempit, itu jadi salah satu hal terindah dalam hidup.
Saat itu aku belum tahu apa itu rasa sedih atau kehilangan. Dibenakku saat itu, aku rindu dengan rumah lama dan teman-temanku dulu. Padahal, baru sehari aku tinggal disini. Ragaku boleh disini, tapi nyawaku seperti masih tertinggal disana. Aku merasa belum siap dan tidak akan pernah siap meninggalkan kenangan masa kecilku dulu.
Ting ting ting ting!
Terdengar suara piring yang diadu dengan garpu. Aku langsung keluar dan bertanya ke Ibu yang ada di dapur.
“Bu, itu apa? Ada yang jualan ya?”. Ibu melongok dan wajahnya juga terlihat bingung. Bapak langsung menyambar pertanyaanku.
“Itu ketoprak! Kalian mau gak?
“MAU!”, aku dan Kala menjawab dengan lantang dan bersamaan. Ibu langsung menyodorkan 4 piring cokelat bening, yang biasa didapatnya dari sabun colek Ekonomi ke aku.
“Ini. Beli 4 ya? Kebetulan kita belum sarapan. Ibu juga belum sempat masak”
Aku mengangguk dan dengan hati-hati membawa piring itu ke depan. Kala menyusulku.
“Ketoprak! Bang, ketoprak!”, panggil Bapak dengan lantang. Untungnya abang ketoprak belum terlalu jauh. Ia berhenti dan kembali ke rumahku. Aku dan Kala langsung menyerbunya.
“Empat ya, Pak. Jangan pedas”
“Siap neng”, jawab tukang ketoprak sambil menyusun piring satu persatu. Aku dan Kala memperhatikan si Abang yang membuat ketoprak. Menunggunya dengan tidak sabar. Setelah bawang putih dan saus kacang, lalu dia menuangkan botol berisi air asem. Yang sangat khas dari tukang ketoprak, dia menuangkan botol asem dan menahannya dengan satu jempol. Mungkin supaya tidak banyak tumpah. Padahal kalau aku perhatikan, botol asemnya sudah ada plastik menutupi dan dilubangi-lah sedikit. Kenapa pula dia harus tahan dengan jempolnya?
Dan ketika ketoprak jadi, kami langsung menikmati bersama di ruang tamu yang masih berantakan. Ketoprak pertama di rumah baru, sambil sesekali Bapak menceritakan suasana di komplek ini.
“Disini tuh masih ada becak, lho!”
“HAH?”, kata aku dan Kala bersamaan. “Becak, Pak?”, kata Kala nggak percaya.
“Becak yang kayak di Solo itu, Bu?”, tanyaku nggak yakin ke Ibu. Ibu mengangguk dan menyelesaikan sendokan terakhirnya.