Sebulan berselang. Dan kami mulai menikmati kehidupan baru di rumah antah berantah, dengan segala problematikanya. Kadang aku berpikir, ingin sekali pindah ke rumah lama lagi. Ingin sekali tinggal di lingkungan gang lagi, ramai, banyak teman. Tidak seperti disini terasa sepi, tidak ada teman seumuran. Saat itu, aku benar-benar merindukan rumah lamaku. Ke sekolah tinggal jalan kaki, menyelusuri rel kereta. Walaupun polusi debu dan udara bercampur menjadi satu, tapi terasa lebih nikmat dibanding harus jauh dan melelahkan jiwa dan ragaku. Bisa main ke rumah Bu Indun dan numpang tidur disana. Bisa ke Ancol tinggal naik kereta dekat peron rumah. Semua serba mudah. Sementara di rumah baru, semua terasa sulit. Dan untuk anak seumuran aku dan Kala, adaptasi itu terasa sangat berat. Sering kali bertanya,
“Kenapa kita gak punya rumah yang dekat dengan sekolah?”
“Kenapa kita harus ngabisin waktu di jalan?”
“Kenapa mau sekolah aja capek banget?”
Dan kenapa-kenapa lainnya, yang selalu dijawab Bapak dengan banyak jawaban. Yang intinya. “Demi kebaikan kalian”. Titik! Sebagai anak kecil, kami tidak tahu, kebaikan apa yang kami harus dapat dengan sekolah sejauh ini? Padahal kalau dilihat, disekitar sini juga banyak sekolahan lain. Alasan karena dekat dari kantor Bapak supaya dia bisa antar atau jemput kami, karena di daerah Jaksel sekolah favorit semua, terdengar klise di telinga kami. Dan sebagai anak kecil yang haus hiburan- yang sering kami dapatkan ketika tinggal di Grogol- aku dan Kala memberanikan bertanya ke Bapak,
“Kok kita gak pernah liburan ke Ancol lagi?”
“Rumah kita sekarang jauh dari Ancol! Udah gak ada lagi liburan kesana. Bisa tekor kalo kita kesana tiap minggu. Apalagi udah gak ada karcis gratis lagi”, jawab Bapak sambil membereskan meja gambarnya. Setelah sebulan pindah, meja gambar itu belum tahu harus ditaruh dimana. Ya, akhirnya diletakkan di ruang tengah, berjajaran dengan meja makan. Ternyata rumah ini memang hanya luas halamannya saja, dalamnya terlihat pas-pasan.
“Lho, memang kenapa Pak? Kan Pakde selalu kasih tiket gratis ke kita”, tanya Kala dengan nada protes.
“Pakde mu wis pensiun, lho! Udah 3 bulan ndak kerja lagi. Ya ndak bisa dapat tiket gratis lagi”, jawab Ibu sambil menimbrung obrolan kami bertiga.
Aku dan Kala saling berpandangan, dan langsung menghela nafas, sampai kedua bahu kami terangkat.
“Ya, gak seru banget gak bisa ke Ancol lagi. Gak bisa liburan lagi!”, kataku buka suara.