Kehidupan baru memang banyak memberikan cerita ke kehidupan aku. Bayangkan, yang dulunya aku anak rumahan, main paling jauh berapa kilometer-lah, ini untuk sekolah saja, pulang pergi bisa mencampai 50 kilometer! Senin dan Jumat! Dan kalau libur, waktuku dan Kala dihabiskan hanya untuk tidur dan tidur. Hibernasi seperti beruang kutub!
Yang membuat sangat berat dan mengasah mental kami menjadi mental baja, duo piyik ini harus berjuang untuk naik metro mini dan angkutan umum atau angkot untuk sampai rumah. Nyatanya, kerjaan Bapak sangat sibuk, jadi tidak bisa mengantar dan menjemput kami sekolah. Kadang selagi bisa, Bapak pasti menjemput. Tapi untuk mengantar, itu hal yang mustahil, karena kami baru berangkat jam 10 pagi, sementara Bapak sudah harus pergi kerja jam 7 pagi.
Dulu, zaman aku sekolah, jarang ada metro mini dan angkot yang mau menampung anak sekolah, karena tarifnya murah. Jadi kami harus mengharapkan belas kasih para supir angkutan itu. Rute aku untuk sampai sekolah: dari rumah jalan kaki ke depan komplek sejauh 1 kilometer – naik angkot sampai Pasar Bintaro – naik metro mini S71 sampai Mayestik – turun dan jalan kaki lagi sampai sekolah. Dan itu pulang pergi. Dan... tidak semudah yang dibayangkan. Setiap mau naik angkot, ada supir arogan yang tidak mau mengangkut kami dan teriak,
“Penuh Neng, udah penuh! Cari yang lain aja!”
Padahal aku lihat bangku di angkot masih kosong. Walaupun akhirnya ada yang mau, itu butuh waktu yang lama. Pernah suatu hari kami pulang sekolah, bertepatan dengan jam pulang kerja. Semua metro mini itu berakhir di terminal Blok M. Tapi kadang kalau armadanya kosong, dan sudah banyak penumpang yang bisa dibawa, mereka pasti akan putar balik. Saat itu aku melihat ada S71 yang berputar di arah Mayestik, saat aku mau pulang.
“Kala ayo cepat ada metro mini mutar! Kita harus kejar!”, kataku dengan semangat sambil menarik Kala yang nampak celingukan.
“Ayo Kak, ayo!”. Dan dengan semangat 45 kami mengejar S71 itu. Kami mengejar dan saat itu bis berhenti. Kami langsung naik dari pintu belakang. Dan apa yang terjadi? Baru juga satu kaki kami naik, tiba-tiba... WUSHHH!! Bis sialan itu sengaja mengebut, menambah kecepatannya se-enak jidatnya sendiri! Dengan sekuat tenaga aku memegang Kala, sementara satu tangan berpengangan erat ke pintu! Supir sialan itu tidak tahu betapa membahayakannya apa yang sudah diperbuat oleh kami. Hampir saja kami jatuh dan entah apa yang akan terjadi setelahnya. Kami terpaksa harus nekat melakukan itu, karena sudah hampir setengah jam menunggu, dan tidak ada satupun bis yang mau menampung kami.