ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #16

ACARA 17 AGUSTUSAN

Tak terasa sudah 3 bulan kami menebeng di sekolah orang. Dan saatnya kami kembali ke ‘kandang’ sendiri. Dan tak terasa tinggal hitungan bulan juga, kami akan ujian. Aku akan meninggalkan kehidupanku menjadi anak SD, dan masuk ke SMP. Begitupun Kala yang akan naik ke kelas 5 SD. Hari Sabtu itu, menjadi Sabtu terakhir kami, berada di sekolah lama. Kadang memang hari Sabtu kami masuk, karena ada kegiatan Pramuka, dan upacara penutupan. Biasanya kalau Senin upacara pembukaan pelajaran, Sabtu juga ada upacara penutupan. Dan surprisingly, Ibu Wali Kelas menugaskan aku menjadi MC atau pembawa upacara sekolah. Wah senang banget, dong. Aku merasa memang sudah seharusnya aku menghilangkan sikap minderku ini. Nggak apa-apa kamu nggak cantik, yang penting kamu pede! Itu yang aku selalu bilang pada diriku di depan cermin.

Ada perasaan gugup saat itu. Tapi yang membuat semangatku menggebu-gebu dan hilang semua rasa takut atau ndredeg itu, karena Bapak dan Ibuku melihat upacara hari itu, dari luar gerbang sekolah. Bapak menyempatkan diri untuk pulang cepat dari kantornya. Sementara Ibu memang menunggu kami di sekolah. Aku harus menunjukkan ke orang tuaku, kalau aku bisa. Kalau Bapak nggak sia-sia menyekolahkanku sampai jauh dari rumah, hehehe. Melihat mereka hadir merupakan penyemangat untukku. Upacara pertama aku sebagai petugas sangat lancar. Ketika pulang Bapak memelukku dengan bangga. Dan kulihat diujung kelopak matanya, ada setetes air mata yang hampir jatuh.

“Hebaatt! Gendis memang juara! Begitu dong, Nak. Jangan minderan, ya. Semua orang bisa kalo ada kesempatan. Ingat itu!”

“Iya Pak, hehe. Tadi sempat gugup. Terus lihat Bapak dan Ibu...”, kalimatku terputus karena Ibu memelukku dengan bangga. Dan Kala juga berlarian dari belakang dan langsung memelukku. Kami berpelukan bersama di depan pagar sekolah. Untuk orang lain pasti berlebihan, tapi untuk kami...itu peristiwa yang berharga.

“Dari dulu kan kamu suka tampil! Ibu senang lihatnya”

“Kak Gendis keren! Biasanya kalo upacara aku gak semangat. Tadi aku semangat banget!”. Kami semua tertawa mendengar celotehan Kala. Bapak menepuk bahu Kala.

“Heh! Tiap upacara ya harus semangat. Bukan karena Kak gendis tugas aja. Piye toh anak cilik iki! Ngisin-ngisine ae!”

“Bukan anak cilik, Pak! Tapi anak itik! Hehehe”, kataku meledek. Kala nggak terima dan mengelitiki pinggangku. Aku balas juga mengelitiki dia. Kami ber-empat berjalan ke arah mobil dengan riang gembira. Saat itu aku sudah menorekan sejarah dalam hidup. Menjadi MC upacara pertama kali di sekolah, di saat aku menginjak kelas 6 SD. Kami pulang dengan mobil kantor Bapak. Kali ini mobilnya bukan lah lagi pick up, tapi sedan. Sedan Timor yang sedang marak saat itu. Enak sekali naik mobil dengan AC semriwing. Apalagi pulangnya Bapak mentraktir kami makan Sate Padang. Untuk pertama kalinya aku baru tahu yang namanya Sate Padang. Awalnya kurang begitu suka, karena melihat kuah bumbunya yang terasa beda. Tapi setelah sekian lama, Sate Padang jadi makanan kesukaanku. Enaknya nggak karu-karuan!

*****

Dari menjadi MC di upacara sekolah, keberanianku mulai meningkat. Aku ingin mengembalikan kepercayaan diriku seperti dulu. Masa dulu aku bisa tampil di depan ratusan orang, sekarang nggak bisa?! Bukan siapa yang menonton atau dulu buat aku, mereka nggak level melihat anak panuan seperti aku. Aku selalu bilang pada diriku sendiri, jangan hiraukan mereka. Anggap saja mereka puluhan semut yang berjejer, dan kebetulan ada di tempat aku berdiri. Karena itu, ketika di komplek mengumumkan akan ada acara 17 Agustusan di komplek kami tinggal, di Komplek Pondok Safari Indah (maaf, aku sampai lupa bilang nama komplek kami hehehe), Bapak langsung mendaftarkan aku untuk menjadi salah satu pengisi acara.

“Hah? Bapak daftarin aku??? Tapi—“

“Gak pake tapi-tapian! Kamu punya bakat, jadi kamu harus asah!”, kata Bapak sambil menyodorkan sebuah kertas. “Nanti kamu baca puisi. Ini judulnya AKU, karya Chairil Anwar”. Ternyata Bapakku juga penggemar puisi, termasuk Chairil Anwar. Di sekolah kami juga diajarkan mengenal Sastrawan Indonesia, di pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelum nantinya akan booming film Ada Apa Dengan Cinta, aku sudah tahu dan mengenal karya-karya Chairil Anwar.

“Aku juga pentas, Kak. Sama anak-anak sini aku mau joget-joget”, kata Kala dengan semangat. Kami tertawa melihat Kala joget seperti bebek. Setelah beberapa lama tinggal di komplek ini, aku dan Kala sudah punya beberapa teman yang seumuran. Tapi tak ada satupun teman kami disini, yang bersekolah sama dengan kami. Adapun pasti di komplek lain, karena kami sering satu angkot.

Aku mengambil kertas yang diberikan Bapak, dan mulai membacanya.

“Aku... Kalau sampai waktuku—“

“Yah, kok lemes gitu sih, Ndis! Liat Bapak nih!”. Dengan sigap Bapak berdiri dan mencontohkan membaca puisi AKU. Dengan suara lantang dan intonasi yang tegas.

“Aku, karya Chairil Anwar...”, Bapak menghela nafas dalam. Lalu dia keluarkan dan melanjutkan membaca. “Kalau sampai waktuku. Kumau tak seorang kan merayu! Tidak juga kau!”, katanya sambil menunjuk, dengan mata terlihat galak. Aku dan Kala malah menahan tawa.

“Assalamualaikum”

Lihat selengkapnya