ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #17

MASUK SMP FAVORIT

Fase disaat aku harus menjalani ujian masuk SMP, termasuk fase paling berat dalam hidupku. Saingannya begitu banyak, dan kuota yang ada tidak sebanyak peminatnya. Satu hal, aku bukan anak yang pintar, cerdas apalagi out of the box! Jauh sekali dari semua itu. Dan satu hal, aku harus masuk ke sekolah favorit yang ada di daerah Kebayoran Baru. Ada 3 SMPN disitu. SMP 19, SMP 29 dan SMP 11. Bapak hanya mau 3 pilihan itu. Hanya bersebelahan dengan SDN 01 Gunung.

Bapak tetap mau aku sekolah dekat kantornya, agar memudahkan antar jemput atau salah satunya. Tapi Kala, dia minta pindah sekolah, ke SDN yang lebih dekat dengaan rumah. Yang hanya ditempuh kurang lebih setengah jam dari rumah, hanya dengan sekali angkot S 06, jurusan Pondok Aren – Kebayoran Lama. Sementara aku? Harus berjuang sendiri. Berjibaku mengejar angkot dan metro mini, karena Ibu sudah tidak mengantar kami lagi. Dia harus mengurus rumah, dan Kala yang pulang lebih cepat. Terlalu membuang waktu menunggu kami seharian di sekolah.

Syukurnya, aku bisa masuk SMP favorit, SMPN 19, yang letaknya hanya bersebelahan dengan SDN 01 Gunung. Ada rasa bangga, karena Bapak nggak perlu mengeluarkan uang banyak untuk ke sekolah swasta.

Pertama masuk SMP, pastilah ada perasaan gugup dan bingung. Apalagi kayaknya aku ini orangnya minderan dari lahir. Melihat sekolahku yang termasuk sekolah favorit, dan melihat anak-anaknya kece berat plus banyak anak borju alias kaya, bikin jiwaku menciut. Aku si Gendis yang memble dan termasuk kere di kalangan mereka ini, terlihat seperti serpihan rengginang. Apalagi aku bukanlah anak yang pintar. Aku bisa masuk ke SMP negeri karena hoki aja. Selain itu nggak ada! Matematikaku buruk! Karena aku benci pelajaran hitung-hitungan.

Aku ingat sekali waktu pertama merasakan jadi anak SMP. Aku sok-sokan bergaul dengan cewek cantik di kelas. Aku masih ingat namanya Afriyani. Ha ha ha ha... ingatanku soal nama lumayan juga, sih. Jadi nih anak memang cantik. Putih, tinggi, dan rambutnya ikal. Kelihatan banget dia anak berada, lha. Aku mikir dulu di Grogol aja aku bisa diterima sama Novi, yang menurut aku terkaya disana, masa disini nggak? Ketika istirahat tiba, kami ke kantin sekolah. Karena uang jajanku pas-pasan, aku beli minum es sirup yang diplastik, yang porsinya jumbo, walau warna-warnanya begitu mencolok. Sementara Afriyani membeli teh botol (saat itu minuman teh botol tuh termasuk mewah untukku hehehe). Misalkan minuman sirup seplastik itu harganya Rp 200, teh botol kemasan beling itu harganya Rp 600. Afriyani meneguk minuman itu dan... nggak dihabiskan! Masih beberapa sedot lagi, dia kembalikan ke penjual. Dia nggak habiskan dan itu bikin aku tercengang!

“Afri, kok minumannya gak dihabisin? Sayang, lho”

Lihat selengkapnya