Bicara tentang keminderan-ku di zaman SMP, kayaknya nggak ada habisnya. Jadi, diusia ABG labil seperti itu, aku mulai memelihara diri, supaya tidak terlihat kucel-kucel amat! Ingin lebih percaya diri dan tidak terlalu jomplang-lah diantara teman-teman sekolah.
Dulu di Grogol, aku masa bodo banget dengan penampilanku, tapi sekarang nggak bisa. Aku sudah mulai rajin memakai sabun muka sepulang sekolah. Menggunakan deodorant. Karena perjalanan dan pulang ke sekolah itu dipenuhi dengan debu dan polusi udara. Yang penting terlihat terawat.
Dan di masa SMP itulah aku mengenal yang namanya gencet menggencet. Jadi kalau ada adik kelas lebih cantik dan dipandang sombong oleh senior, siangnya saat pulang dan sekolah terlihat sepi, si junir akan didatangi senior yang nggak kalah cantiknya itu. Dan terjadilah – yang menurutku- perplocoan ilegal, yang melibatkan beberapa orang. Aku dan teman-teman melihatnya sendiri. Sejak masuk SMP, aku memutuskan untuk ikut ekstra kulikuler Paskibra, karena aku senang menjadi petugas upacara. Dan biasanya tiap siang kami latihan. Dan tidak sengaja kami melihat ada per-gencetan itu.
“Eh! Gak usah kecakepan deh, lo! Lo mau TP (tebar pesona) ya! Cowok senior gak ada yang suka sama elo!”
“Ih. Siapa yang juga TP! Elo aja yang ke GR-an!”, kata si junior. Semakin dia melawan, semakin habislah di tangan senior. Setelah itu aku tidak mendengar percakapan pastinya, tahu-tahu ada suara teriak-teriak, karena mereka main jambak-jambakan! Ya ampun, nggak menyangka bisa se-heboh dan se-serius itu. Akhirnya ada guru yang melihat dan memisahkan. Dan esoknya mereka dipanggil. Duh, susah juga jadi cewek cakep. Malah dianggap saingan dan tebar pesona. Padahal memang pembawaannya seperti itu.
Tapi aku juga punya cerita kurang enak di zaman itu. Karena aku kurus dan kurang terurus hehehe, aku sering di-bully oleh teman-temanku. Kadang mereka meledekku dan aku menganggapnya itu body shaming. Salah satu mata pelajaran yang aku nggak suka adalah olahraga, karena fisikku memang terlalu kurus saat itu. Setiap lempar cakram, pastilah tidak sampai target. Dan ketika senam disuruh latihan salto, aku bukannya salto dengan benar, malah jatuh ke samping dan membuat mereka tertawa. Kadang aku juga menertawakan diriku, yang sebenarnya merasakan malu luar biasa.
Karena aku nggak mau diledek kurus terus – bahkan setiap ada pertemuan keluarga, aku selalu dibilang sangat kurus- aku bertekad menggemukkan badan. Tapi gimana bisa gemuk, kalau aku sudah capek duluan di jalan? Sepertinya energiku habis hanya untuk berangkat dan pulang sekolah. Akhirnya ada yang menyarankan aku untuk minum jamu bubuk asli, bukan yang buatan.
“Jamu itu yang jual katanya ada di pasar Mayestik. Lantai 2. Dan harus ambil nomor karena antri”, kata Bapak menjelaskan. Sebenarnya teman kantor Bapak-lah yang menyarankan untuk minum jamu itu.
“Ya udah Pak, aku mau. Nanti kalau libur, aku berangkat pagi antri jamu itu”, kataku dengan tekad bulat.
“Yowis, Ibu temeni. Mesake men kowe berangkat sendiri”, ujar Ibu menawarkan diri. Kala ternyata juga ingin ikut, karena dia sudah lama nggak ke pasar Mayestik.
“Aku ikut juga ya, Buk!”
“Tapi jangan banyak jajan!”
“Iya Buk. Ya paling beli cendol di pojokan pager itu. Terus kue rangi, kue cucur—“
“Kalaaa! Aku ini mau beli jamu, bukan mau jajan!”, kataku setengah kesal. Kala mencibir ke arahku.
“Ya kan sekalian! Masa jauh-jauh cuma beli jamu. Lagian Kak Gendis, dibilang kurus aja jadi kepikiran. Kan yang penting sehat”
“Yowislah Kala, biarin aja. Sing penting kamu rajin minum jamunya ya, Ndis”
“Iya Buk”.
Dan akhir pekan itu kami habiskan ke pasar Mayestik. Untungnya aku dapat nomor antrian 10, belum banyak. Ternyata memang, tukang jamu itu sangat laris di kalangan penggemar jamu. Aku berharap setelah minum jamu ini, aku bisa menjadi gemuk.
Dan memang, nafsu makan menjadi banyak, bahkan berlebih. Tapi gemuknya hanya di pipi saja. Sementara badanku masih cungkring hahaha. Pipiku terlihat kepu, sementara badanku tetap kuyu. Aahhh!
*****
Secara ekonomi, taraf kehidupan kami memang mulai membaik. Aku dan Kala sudah mulai menerima kehidupan dan lingkungan baru kami ini. Seiring berjalannya waktu, sudah banyak orang yang tinggal di komplek PSI. Sudah banyak perumahan-perumahan yang dibangun. Banyak komplek dan cluster baru di daerah Ceger, Pondok Aren. Sudah ada mal yang berdiri disini, mal Plaza Bintaro, mal legendaris pertama yang ada di daerah Bintaro.