Akhirnya aku harus menyadari, kalau kemampuan pelajaran eksak-ku sangatlah buruk. Nilai ujian SMP ku dibawah standard dan aku, harus rela masuk SMA swasta. Pastinya sangat sedih dan terpukul. Bapak habis-habisan memarahi aku, seolah aku nggak pernah serius belajar. Padahal kemampuan otakku saja yang memang terbatas. Akhirnya aku disekolahkan di SMA swasta dekat rumah. Dekat tuh maksudnya hanya ditempuh dengan sekali naik angkot ya, bukan jalan kaki. Kala juga sudah masuk SMP, dan sama sekali tidak ada kesulitan. Kala kelas 2 SMP Negeri, dan aku masuk kelas 1 SMA swasta, SMA Kartika, yang ada di daerah Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Jarak sekolah aku dan Kala cukup dekat, hanya dengan berjalan kaki. Jadi, Bapak bisa mengantar kami berdua sekaligus.
Sebenarnya lebih menyenangkan di sekolah sekarang. Tidak perlu bermacet-macetan dan drama mengejar bis. Bapak juga bisa berangkat agak longgar, karena nggak perlu kena macet. Tapi sekali lagi, Bapak tetap mau aku masuk sekolah negeri, karena mempengaruhi saat aku masuk kuliah nanti. Beliau tetap berharap, aku bisa masuk Universitas Negeri. Cita-cita yang sangat tinggi dan ngeri ya, buat anak macam aku begini.
Kehidupan ekonomi kami semakin membaik. Bapak masih dengan mobil sedan Timor-nya. Dan karena memiliki halaman rumah yang lumayan luas, Bapak berpikir untuk memelihara binatang ternak, yaitu ayam. Pikiran gampangnya adalah, ayam akan bertelur dan kita menikmati hasilnya. Kalau pun mau ayam, dia akan sembelihkan. HAH?! Bapak, Bapak, ada saja gebrakannya. Dan selalu ya, tanpa diskusi dulu. Tanda tedeng aling-aling, tiba-tiba membangun kandang besi dan diisi puluhan ayam. Ya ampun! Dia menganggap rumah ini seperti rumahnya di desa, Slogohimo.
Ibu dan kami sebenarnya nggak setuju. Gimana nggak setuju, itu benar-benar merepotkan sekali, karena lahan kami terbatas. Kotorannya juga kemana-mana, dan mereka senang loncat kesana kemari. Ya bingung aja. Gimana sih kalau ada rumah di perumahan pelihara ayam sampai puluhan tuh, kayak cari gara-gara gitu, lho. Maaf Pak. Belum lagi banyak kucing liar yang Ibu pelihara, karena alasan kasihan. Bahkan Kala, pernah membawa anak kucing yang menangis di got. Memang kami keluarga kucing, selain Bapak. Mungkin dia keluarga ayam.
Kalau ayam mau bertelur atau ingin kawin, itu luar biasa berisiknya! Bahkan bisa tengah malam mereka berteriak-teriak tanpa henti. Dan ini sangat mengganggu tetangga, karena komplek tempat kami tinggal, sudah banyak dipenuhi penghuni baru. Dan setiap Bapak potong ayam, aku menyentuhnya pun tidak.
“Kak Gendis kok gak makan. Ayam gorengnya enak tauk!”, kata Kala dengan cueknya melahap ayam yang dipotong Bapak, dan sudah tersaji di meja makan.
“Ih ogah! Itukan ayam yang kemarin sempat masuk kamar. Aku ingat banget mukanya. Kasian, ah!”
“Ya rapopo toh. Ayam kan dipeliara buat dimakan”, ujar Ibu sambil menyodorkan ayamnya ke aku. Tapi aku menolak dengan cepat, dan lebih memilih menggoreng telurnya saja. Telur ceplok atau mata sapi kesukaanku.
Dan karena kebiasaan Bapak yang suka memaksa itu, kedua orang tua kami jadi sering ribut mulut, membuat aku dan Kala jadi stres. Melihara ayam itu nggak cocok di komplek seperti ini. Sama sekali tidak bisa diterima juga oleh tetangga. Akhirnya Bapak merelakan menjual ayam-ayamnya ke pedagang. Syukurnya, sudah tidak ada lagi keributan ayam spanneng tiap hari! Dan kandang yang dbuatnya dengan niat, harus berakhir begitu saja.
Zaman itu sedang hits sekali roller blade dan mainan Tamiya. Kami nggak pernah absen dengan semua yang sedang musim itu. Bapak selalu menyempatkan untuk membelikan barang kesukaan kami, supaya kami bahagia dan nggak dipandang sebelah mata juga. Bahkan ketika zaman-nya Sega, Bapak membelikan kami console-nya. Dengan syarat kami harus rajin belajar dan harus naik kelas. Kala senang sekali dengan Tamiya baru-nya. Sementara aku mati-matian berlatih roller blade di depan jalanan komplek. Sementara kalau Tamiya, memang ada sirkuitnya.
Dan seperti biasa, tanda tedeng aling-aling, Bapak memanggil tukang berjumlah 2 orang ke rumah. Dia menjelaskan dengan gambar dan detil. Aku melongok dan bertanya ke Ibu. Kala juga sangat penasaran.
“Buk, Bapak ngapain manggil tukang?”