ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #20

PERJUANGAN YANG SESUNGGUHNYA

Rasanya dunia seni itu memang duniaku. Aku nggak perlu memikirkan penampilan yang all out. Nggak perlu dandan menor-menor, apa adanya saja. Karena yang dilihat itu jiwa seninya, bukan penampilannya. Ya, bangga banget lah bisa jadi anak IKJ, walaupun diukur jarak dari rumah ke kampus itu, jauhhh sekali. Bisa mencapai 40 kilometer sekali jalan. Capek dan sangat menyita waktu dan tenaga. Tapi saat itu aku bertekad, aku akan jadi orang sukses, yang pasti akan menghasilkan banyak uang, agar hidup aku nggak susah lagi.

Sebenarnya kalau nggak mau makan tenaga dan waktu, solusinya adalah nge-kost. Tapi kedua orang tuaku nggak mengijinkan, dengan alasan pergaulan yang bebas. Mereka takut aku terjerumus dengan lingkungan yang nggak etis. Bersyukurnya memang, aku punya orang tua yang agamis, yang selalu mengingatkan aku untuk sholat. Bahkan Bapakku paling kesal kalau lihat aku pakai baju yang terlihat auratnya dan nyeplak, alias memperlihatkan bentuk tubuh. Padahal di usiaku yang ke-18 tahun, aku sering merasa memiliki tubuh yang ideal. Ehem, hehehe. Karena ternyata, di tahun 90-an, tubuh kurus dan tinggi itu adalah idaman. Semua orang ingin kurus. Sementara aku malah ingin gemuk.

Setiap kuliah pagi, dimana harus masuk jam 08.00 itu sangat effort sekali buatku yang rumahnya jauh. Naik angkot sepertinya tidak mungkin, karena jam macet. Jadilah aku naik kereta dari stasiun Pondok Ranji (untuk ke stasiun ini saja, aku harus naik angkot 2 kali) ke stasiun Tanah Abang. Setelah itu naik metro mini sampai depan kampus IKJ. Sebagai anak kereta, aku oke-oke saja naik kereta. Tapi, jangan bayangkan keretanya sebagus MRT sekarang, ya. Kereta dulu itu yang jam 07.00 pagi masih KRD, alias kereta diesel. Unit keretanya benaran busuk deh. Dan yang paling aku benci setengah mati, banyak pelecehan di dalam kereta. Beberapa cowok-cowok sialan dan biadab, sering menempel-nempel badan kita. Aku selalu dilindungi oleh Mbak-mbak atau Ibu-ibu di KRD.

“Neng, jangan ditengah. Udah dirinya di pinggir aja. Banyak cowok brengsek!”, kata seorang Ibu mengingatkan aku.

Lihat selengkapnya