Menjadi anak seni ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Harus banyak referensi film, dan banyak terlibat dalam diskusi film dan TV. Padahal, aku orang yang malas berdiskusi. Lagi-lagi, aku orang yang minderan, karena teman-temanku lebih pintar dan memahami dunia film dan TV ini. Dan satu lagi, pergaulan dengan Senior itu sangatlah penting di kampus kami. Karena mereka yang akan mengajak kita nge-job diluar kampus. Lagi-lagi aku nggak pernah melakukannya. Terlalu takut dan minder, juga nggak punya skill yang mumpuni. Dan juga kalau perkuliahan selesai lebih cepat, aku memilih pulang supaya bisa sampai rumah cepat juga. Aku bukan tipe anak seni yang senang nongkrong di kampus sampai larut malam. Ngobrolin apa saja tentang dunia per-shootingan. Minder itu sudah membuat sendi kehidupanku menjadi mati! Aku benci menjadi minder.
Dan lebih benci lagi melihat tidak ada kemajuan dalam hidupku. Sudah tingkat 2 dan semester 3, sudah saatnya mengambil mayor perkuliahan. Dan aku mantap mengambil mayor Editing, dimana nantinya aku bisa menjadi Editor TV atau Film, sesuai minatku. Tapi begitulah, setiap ada Senior yang memiliki tugas membuat karya audio visual, pastilah akan ajak junior-juniornya untuk terlibat. Dan itu kebanggan buat kami junior yang terlihat. Tapi apesnya, tidak ada satupun Senior yang mengajakku untuk terlibat dalam produksi. Entah aku ini terlalu blo’on atau terlalu jelek di mata mereka. Dan aku sering menangis sendiri, kenapa aku ini tidak menonjol diantara yang lain? Kenapa aku dilahirkan sebagai anak yang underdog dan selalu dipandang sebelah mata?
Menjelang semester 4, aku merasa sudah tidak semangat lagi menjalani kuliah. Sementara teman-temanku terlibat dalam sebuah produksi, aku sama sekali tidak pernah diajak. Sekalinya pernah diajak, itu juga karena membantu temanku sendiri. Bisa bayangkan gimana sedih dan merasa kecil sekali aku ini, di dunia yang sebesar ini.
Tapi aku tetap tidak mau mengeluh pada Bapak dan Ibu yang sudah mengkuliahkan aku.
Apalagi belakangan aku tahu, Bapak menggadaikan rumah ini, demi aku bisa kuliah di IKJ. Karena untuk ukuran zaman dulu, apalagi per-ekonomian kami, sekolah di IKJ itu tergolong mahal. Tapi pastilah lebih mahal kampus Trisakti, Tarumanegara, Bina Nusantara, yang sangat nge-top saat itu. Jadi aku bertekad, harus lulus tepat waktu, dan menjalani semua prosesnya. Karena aku percaya, semua akan ada waktunya, dimana kita akan tersenyum lebar dan berterima kasih dengan pelajaran hidup yang sudah kita lewati.
*****
Di hampir keputus asaan menjalani kuliah itu, aku mendekatkan diri pada Allah SWT. Sepertinya sudah terlalu lama aku sibuk dengan duniaku. Sibuk dan melelahkan. Dari usiaku 11 tahun sampai aku masuk ke usia 20 tahun, aku tetap harus menghadapi keganasan jalanan Jakarta dengan segala seluk beluknya. Belum lagi ketika kerusuhan 98. Aku adalah saksi hidup yang merasakan betapa mencekamnya peristiwa itu. Saat itu pelajaran kuliah berlangsung seperti biasa. Tiba-tiba di depan kampus terlihat sekumpulan orang-orang memenuhi jalan. Menjarah, membabi buta, membakar semua pertokoan yang ada. Aku dan beberapa teman lari ke masjid melindungi diri. Hari itu kami nggak bisa pulang dan hanya berdiam diri di masjid, sampai besok paginya. Ke-esokan harinya aku akhirnya bisa pulang, itupun naik bis yang ada saja. Yang penting bisa sampai Blok-M, setelah itu aku bisa naik apapun. Dan dalam perjalanan pulang itu, aku melihat puing-puing pertokoan yang dibakar massa. Masih menyisakan asap dan debu, juga trauma para korban. Masa paling kelam di negeri demokrasi ini.
Aku mulai bermunajah pada Allah, mengharapkan doaku dikabulkan. Yaitu agar aku menjadi orang yang dihargai dan... aku tidak merepotkan kedua orang tuaku lagi. Dan Allah Yang Maha Baik mengabulkan doaku. Beberapa bulan kemudian, ada Senior-ku yang mengajakku untuk magang di SCTV, sebagai Editor Video. Aku senang dan serius banget menjalani, di sela perkuliahanku. Ternyata aku bisa diterima oleh orang-orang di bagian post-pro itu. Sedikit demi sedikit aku mendapat pekerjaan dari Produserku. Aku ingat, waktu itu aku dibayar Rp 170 ribu, menjadi asisten Pengarah Produksi. Aku belikan uangnya celana jeans Lea yang sedang hits saat itu hehehe.