ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #23

HIDUP ADALAH ANUGERAH

Sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Kala akhirnya kuliah di Universitas Negeri. Anak itu walaupun jahil, tapi memang otaknya encer, beda dengan aku. Dan menjelang usia ke 30 tahun, aku belum ada keinginan menikah. Ke-enakan mencari uang. Sementara Kala, selesai kuliah dia langsung kerja dan tak lama kemudian menikah dengan gadis pilihannya, Rena. Setahun kemudian Kala dan Rena memiliki anak laki-laki. Cucu pertama untuk Bapak dan Ibu. Ya, pasti pertanyaan klise dan standard orang-orang juga keluarga, kamu kapan?

Singkat kata akhirnya di usia 30 tahun aku menikah. Betapa bahagianya Bapak dan Ibu. Akhirnya anak gadisnya mendapat pendamping.

Tapi hidup tak semulus itu. Hidupku bolehlah mapan dan ekonomi kami mulai membaik, tapi tidak dengan kisah percintaanku.

Setahun menikah.

Tanpa anak.

Dan aku bercerai!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Saat itu aku mencerna, apa benar ini nyata? Apa kegagalan pernikahan ini benar aku alami? Aku seperti menyalahkan diriku, yang menikah karena dikejar umur. Ini menjadi pelajaran hidup yang berharga untukku. Aku sudah terbiasa dengan kegagalan. Tapi, kegagalan ini pastilah sangat berbeda dan sangat berat untukku. Dipikiranku saat itu, lagi-lagi aku membuat kedua orang tuaku sedih. Karena aku. Karena kesalahanku. Tapi akhirnya mereka bisa menerima ini sebagai takdir. Begitupun aku, yang perlahan-lahan bangkit, dan meneruskan hidupku. Sebagai Penulis, sebagai pecinta kucing.

*****

3 tahun kemudian aku umroh. Aku bertekad untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Aku ingin meluapkan semua perasaanku di depan Kabah. Aku pergi sendiri, dengan biayaku sendiri. Tapi karena tergiur harga murah, aku dan beberapa jamaah mengalami penipuan. Syukurnya ketika ibadah di Mekah dan Medinah semua berlangsung lancar. Tapi ketika pulang, kami luntang-lantung di bandara King Abdul Azis. Bahkan aku bersama 3 jamaah lain, tidak bisa pulang, dan harus tertahan di Malaysia selama 3 hari! Lagi-lagi menjadi pertanyaan, kenapa yang lain bisa pulang, aku termasuk yang tidak? Aku merenung dan introspeksi diri. Aku memang banyak dosa dan mungkin ini balasan yang secara tidak langsung aku terima.

Tapi sebulan kemudian, ketika aku mendapat pekerjaan menulis di TransTV, aku bertemu dengan laki-laki ini. Satria Pamungkas. Sungguh pertemuan yang aneh. Aku jalan di koridor dan berpapasan dengannya. Langkah kami langsung terhenti.

“Eh elo?”, sapaku. Dan sejujurnya aku lupa dengan namanya. Tapi secepat kilat aku melihat name tag di seragamnya. “Satria?!”

“Lah elo, Ndis? Elo nulis disini?”, katanya nggak kalah heran. Ternyata kabar kalau aku berubah haluan jadi Penulis, sampai ke telinga teman-teman kampus, termasuk dia.

Lihat selengkapnya