Hal pertama yang terlintas di kepala Arsakha adalah mencari pekerjaan, apa pun itu. Meski ia masih punya sedikit uang di rekening bank, tapi semua itu tak akan bisa menjaminnya bisa hidup mandiri. Arsakha ingin selekasnya pergi dari rumah ayah dan ibu. Ia berencana mengontrak rumah atau tinggal di tempat kost. Apa saja asal tidak menumpang lagi di rumah orangtua. Arsa tak ingin menjadi masalah bagi orang lain, Arya terutama. Kakak sulungnya itu memang tak menerima Arsa secara terang-terangan. Apa boleh buat, hubungan darah saja tidak cukup bila kedekatan emosional di antara mereka sudah terputus sejak kecil.
Sekarang ia tak mau lagi menyalahkan siapa pun. Semua ini adalah takdir yang ditulis Sang Maha pada lembaran buku kehidupannya. Arsakha berusaha berdamai dengan diri sendiri, memaafkan siapa pun yang telah menjadikannya seperti ini. Papa, mama, ayah dan ibu, mereka juga sedang menjalani takdirnya sendiri-sendiri. Ayah dan ibu harus melepas Arsakha untuk diambil jadi anak angkat papa dan mama, itu juga bagian dari takdir mereka. Tak seorang pun patut disalahkan atas kemalangan yang dirasakan oleh Arsakha. Life must go on!
Sudah sejak pagi Arsa berkeliling di kota kecil ini. Kota kelahirannya yang entah kenapa, ia sendiri merasa asing. Meski begitu, Arsakha bertekad memulai hidup barunya dari sini, seperti bagaimana dulu ia juga berawal dari kota ini. Hingga sore, Arsakha mengitari kota kecil--di bawah kaki gunung--berhawa sejuk. Tempat wisata yang akhir-akhir ini tidak terlalu ramai dikunjungi. Mungkin karena fasilitasnya tertinggal dengan kota-kota wisata yang lain. Entahlah, Arsa tak mau ikut pusing memikirkan kota kelahirannya ini. Hidupnya saja sudah cukup banyak menguras enerji dan membuat otaknya serasa mau pecah.
Melewati sebuah coffe shop yang baru di buka, Arsa memutuskan untuk singgah dan beristirahat sejenak. Mungkin dengan menyeruput secangkir kopi rasa penat akan hilang dan ia dapat berpikir jernih lagi. What next? Pulang ke rumah adalah sebuah kesalahan kalau sesore ini. Arsakha lebih suka pulang malam. Kalau ditanya oleh ibu atau ayah dari mana saja ia seharian hingga selalu pulang malam, Arsakha menjawab singkat: cari kerja!
Arsakha masuk ke coffee shop, ketika dua orang perempuan tengah sibuk melap dan menata meja. Arsa tidak salah juga, di pintu kaca, di depan tadi, ia melihat tulisan open berwarna merah bergaris hitam. Ia memilih meja di barisan tengah. Coffee shop yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk di singgahi. Arsakha menyukai desain interiornya. Sesaat kemudian seorang perempuan mendatanginya sambil membawa daftar menu dan meletakkannya di meja. Persis di depan Arsakha.
"Vietnam kopi," ujar Arsakha sambil membalik lembaran daftar menu.
Perempuan yang melayani Arsa, tampak menulis pesanan.
"Tidak ada makanan ya, di sini. Eee ... maksudnya, selain cake?"
"Tidak ada, hanya cake."
Arsakha mengangkat wajahnya dan mendongak melihat si pelayan. Pandangan mereka bertemu, tapi cepat si cewek pelayan coffee shop itu membuang pandangan. Ia pura-pura melihat seorang perempuan lain yang sedang sibuk di tempat barista meracik kopi.
"Saya minta klapetart.3"
"Small, medium atau large?"
Arsakha terdiam. Ia memandangi wajah si cewek pelayan yang terlihat jutek, meskipun wajah cantiknya tetap terlihat menarik. Si cewek pelayan merengut kemudian ia menarik napas, kesal.
"Small ukuran 7x7, medium 14x14 dan large ..."
"Itu dalam senti?" Arsa menyela ucapan si cewek pelayan coffee shop.
"Nggak mungkin juga dalam meter, kan?" sahut si cewek pelayan semakin kesal.
Arsakha tersenyum tipis. Ia mengembalikan lembaran daftar menu kepada si pelayan berwajah cantik, tapi jutek.
"Ya, sudah. Pesan yang medium satu."
Cewek pelayan coffe shop itu beranjak tanpa mencatat pesanan Arsa. Kalau banyak tamu dalam satu meja, mungkin ia akan kesulitan mengingat semua orderan, tapi mengingat pesanan cowok ini, biar jarinya dicapit kepiting juga, Jihan yakin nggak bakal lupa. Sepeninggal pelayan, Arsa kembali mengedarkan pandangan ke seantero coffee shop. Tanpa sengaja ia melihat tulisan yang di tempel di dekat pintu masuk di bagian dalam: LOWONGAN PELAYAN, PENUH WAKTU. PRIA dan WANITA.
Jihan meletakkan daftar menu di meja barista.
"Kopi Vietnam, Mbak. Sama klapetart medium satu."
Setelah itu Jihan menunggu dan duduk di depan meja barista. Wajahnya masih merengut. Mbak Lastri mengambil klapetart dalam wadah berbentuk kotak terbuat dari aluminium foil dan menaruhnya di meja. Setelah itu ia sibuk menyeduh Kopi Vietnam menggunakan dripper berbahan stainles steel.
"Kenapa muka asem terus dari tadi?" di tengah kesibukannya, Mbak Lastri menegur Jihan.
Jihan melengos dari tatapan Mbak Lastri.
"Kayaknya hidupmu itu drama terus, deh!" mbak Lastri tertawa pelan.
"Ibuku tadi berantem lagi dengan suami setannya itu. Bonyok juga dia kena pukul!"
Jihan mendengus geram. Mbak Lastri nampak terkejut. Ada rasa bersalah dan menyesal telah mengolok-olok karyawannya itu.