Pukul tujuh pagi Arsakha sudah berpakaian rapi. Ini hari pertama ia mulai masuk kerja di coffee shop. Meski jam kerjanya baru dimulai pukul sepuluh, tapi Arsa sengaja berangkat lebih awal untuk mencari tempat tinggal yang baru. Kemarin malam ia sempat melihat iklan rumah kontrakan dan tempat kost dari internet. Ada satu tempat yang menarik perhatian Arsa. Lokasinya tidak terlalu jauh dari coffee shop. Jika dilihat dari google maps, jarak tempat kost dan coffee shop bisa ditempuh hanya dua puluh menit dengan berjalan kaki.
Sekarang Arsakha sudah berdiri di depan sebuah rumah besar bertingkat dua, berada di dalam gang selebar empat meter, tidak terlalu jauh dari jalan raya. Halaman depan dan samping cukup luas cukup untuk menampung kendaraan para penghuni kost. Arsa menekan bel di dekat pintu gerbang. Tak lama seorang bapak tua berkemeja batik keluar dari rumah besar itu. Ia menghampiri Arsa yang masih berdiri di luar pagar.
"Selamat pagi, Pak," Arsa menyapa hormat dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Pagi, ada perlu apa, ya?" sahut Si Bapak tak kalah ramah.
"Saya melihat iklan tempat kost ini dari internet. Menurut penjelasannya masih ada dua kamar yang kosong."
"Oh, masih ada. Mari silakan masuk, kalau mau melihat-lihat."
Si Bapak mengambil kunci dari saku celana dan membukakan pintu gerbang untuk Arsakha, agar ia bisa masuk. Sambil melangkah, Arsa diberitahu Si Bapak, bahwa setiap penghuni kost diberikan kunci pintu gerbang untuk memudahkam mereka keluar masuk, tanpa harus menunggu dibukakan penjaga. Arsa manggut-manggut tanda mengerti.
Dua kamar yang masih kosong berada di lantai dua. Arsa tertarik pada kamar paling sudut yang berbatasan dengan tanah kosong ditumbuhi pohon-pohon besar. Arsa meyakini bahwa udara segar berlimpah dari hutan kecil di sebelah kamar yang di pojokan daripada kamar yang berada di tengah. Persyaratannya juga tidak ribet, cukup menyerahkan fotokopi identitas serta membayar uang kost tiga bulan ke depan. Beres!
"Kalau begitu saya fotocopi KTP dulu, Pak. Sekalian ambil duitnya ke ATM."
"Oh, silakan. Bapak tunggu di sini, saya tidak kemana-mana, kok. Kerjaannya memang mengurus dan menjaga kost. Nama saya Juhri," ujar Si Bapak menjelaskan.
Setelah Arsakha menerima kuitansi tanda terima pembayaran uang kost selama tiga bulan ke depan beserta kunci kamarnya, ia pamit kepada Pak Juhri dan mengatakan bahwa ia akan pindah besok pagi. Pak Juhri penjaga kost manggut-manggut.
"Iya, tidak apa-apa. Kamarnya sudah bersih, jadi Nak Arsa tinggal masuk saja."
"Terima kasih, Pak."
Arsakha beranjak pergi meninggalkan rumah besar bertingkat dua itu. Ia menyusuri gang keluar menuju jalan raya. Tidak terlalu jauh, di ujung sana Arsakha bisa melihat lalu-lalang kendaraan. Menurut google maps lokasi coffee shop berada di sebelah barat dari rumah kost. Arsakha cukup terbantu dengan bantuan teknologi internet sebab ia masih buta dengan arah dan jalan di kota kelahirannya ini.
Angka 9.40 tertera pada jam digital di layar ponsel Arsakha, ketika ia sampai di depan coffee shop. Masih ada waktu dua puluh menit lagi untuk mengaso sebelum coffee shop dibuka. Lumayan ia bisa menarik napas lega sambil menyeka titik peluh di kening dan wajahnya, setelah berjalan kaki dari tempat kost tadi. Aroma lembut campuran sicilian lemon, calabrian bergamot, menguar harum dari tubuh Arsakha. Ia duduk di teras coffee shop, menunggu Jihan dan Mbak Lastri datang. Jalan tidak terlalu ramai, satu-dua orang berjalan di trotoar. Arsa mengamati semua orang yang melintas di depannya. Bahagiakah mereka? Hati Arsa bertanya-tanya, lalu sibuk membandingkan orang yang dilihat dengan kehidupannya sendiri.
Jihan datang ketika Arsakha tengah melamun dan tak menyadari cewek cantik dan jutek itu mendekati teras coffee shop, kemudian mengambil kunci dan membuka pintu. Suara berisik membuat Arsakha tersadar dari lamunan.
"Mau kerja apa melamun?" Jihan membuka pintu dengan kasar.
Arsakha tergopoh mengikuti Jihan masuk ke coffee shop. Di dalam, Jihan menghidupkan lampu dan suasana kedai kopi yang interior-nya bernuansa modern rustic itu semakin terlihat menarik.
"Itu kursi-kursi diturunin dari meja, susun yang rapi."
Jihan memberi perintah. Arsakha langsung mengerjakan apa yang disuruh tanpa bertanya lagi. Kursi-kursi yang berada di atas meja ia turunkan lalu disusun dengan rapi.
"Setelah tutup, semua kursi dinaikkan ke meja, kemudian lantai disapu dan dipel," ujar Jihan dari balik meja barista.
"Ketika buka, nggak repot lagi membersihkan tempat ini, tinggal dirapihin sedikit," sambung Jihan masih sibuk di balik meja barista.
Arsakha melihat Jihan sibuk menyusun dan menata sesuatu, entah apa. Ia tak mengerti dan tak mau bertanya. Di saat sibuk menurunkan kursi-kursi dan menyusunnya, ponsel Arsakha berbunyi, ada panggilan masuk. Arsa mengambil ponsel dan melihat nama mama tertera di layar.