ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #9

P E R I H

Hari pertama bekerja, Arsa masih kikuk dan tidak tahu apa saja yang akan dikerjakannya selain mengambil dan mengantarkan orderan para pengunjung. Sehingga bekas peralatan minum yang kotor menumpuk di dapur, membuat Jihan naik pitam. Ia lalu mendatangi Arsakha yang lagi berdiri menunggu pengunjung di teras, suasana di dalam coffee shop tidak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi.

"Kamu ngapain aja dari tadi?" 

Arsakha yang dihampiri secara tiba-tiba dan ditegur oleh Jihan dengan nada suara yang tak ramah serta ekspresi kesal dan marah, membuat Arsa terkesiap juga, tapi cowok itu menanggapinya dengan tersenyum.

"Ini lagi menunggu pengunjung."

"Nggak lihat apa di dapur, cangkir dan piring kotor udah pada numpuk?"

Arsakha menoleh ke dalam coffee shop kemudian beralih menatap Jihan.

"Ya, sudah. Biar aku yang cuci."

"Sekarang kita bagi tugas. Pagi sampai sore, aku yang cuci semua bekas peralatan minum yang kotor. Malamnya sampai tutup, giliran kamu. Jadwalnya bisa diubah seminggu sekali. Satu hal lagi, ketika tutup nanti, kita berdua yang bersihin ruangan. Menyapu, ngepel dan membersihkan meja-kursi. Itu cukup adil kurasa."

"Ya, aku setuju."

Arsakha mengangguk dan tersenyum lagi sambil menatap Jihan, seolah berterima kasih kepada cewek itu yang telah mengingatkannya tentang pembagian tugas di antara mereka. Meski cara penyampaian yang dilakukan Jihan sungguh tidak bersahabat. Arsakha tidak mempersoalkannya. Biar sajalah, ia tak mau ikut-ikutan jadi pemarah, meskipun ia punya alasan untuk membela diri.

"Aku ke dapur, kamu yang jaga di depan?" ujar Arsakha dengan hati-hati.

"Aku tahu apa yang harus dilakukan, dulu sebelum kamu bekerja di sini, aku bisa meng-handle semuanya," sahut Jihan masih ketus.

Arsakha mengangguk, lalu beranjak masuk ke dalam coffee shop melewati ruang barista sebelum menuju dapur. Mbak Lastri sedang sibuk menekuni layar ponselnya. Arsa hanya menoleh sekilas dan bergegas menuju dapur. Ia orang baru di sini, Arsakha mengikuti aturan saja dan tak ingin banyak bicara. Satu hal lagi, sedapat mungkin ia menghindari perdebatan dengan Jihan. Arsa tidak mengerti, kenapa pemilik wajah cantik itu selalu dipenuhi oleh kemarahan. 

***

Ibu Jihan yang sedang menonton televisi, heran melihat suaminya hilir-mudik dari kamar dan ruang keluarga, kemudian masuk lagi ke kamar. Sesaat kemudian lelaki itu keluar lagi dan kali ini ia menghampiri istrinya--Ibu Jihan--yang sedari tadi memperhatikan dengan perasaan heran.

"Minta duit," ujar lelaki itu sambil berdiri merapikan pakaian.

"Mau kemana lagi?" 

"Apa perlunya kau tahu, aku mau pergi ke mana?"

"Aku ini istrimu, Herman."

"Lalu kenapa kalau kau itu istriku?"

"Aku berhak tahu, apa pun yang kau lakukan."

"Kau sudah tahu atau pura-pura tidak tahu?"

Ibu Jihan terdiam. Sesungguhnya ia tahu kelakuan suaminya, tapi entah kenapa perempuan itu tak bisa berbuat apa-apa. Sebegitukah hebatnya kekuatan cinta?

"Aku minta duit!" ujar Herman dengan suara sedikit lebih tinggi.

"Kau mau minum-minum lagi sampai mabok, ditemani perempuan-perempuan nakal itu?" Ibu Jihan terlihat sinis.

Herman tertawa parau.

"Apa pedulimu, ha? Sudah, jangan banyak bacot, kasih aku duit!"

"Aku sudah tidak punya duit lagi, untuk belanja dapur saja harus minta bantuan, Jihan. Harusnya kau malu pada dirimu sendiri."

"Aku perlu duit, bukan ceramah kosongmu itu," Herman mulai naik pitam.

"Minta saja dengan perempuan-perempuan jalang itu!" ibu Jihan bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamar.

Herman mengikuti sampai masuk ke kamar, lalu mencekal lengan istrinya itu.

"Kau tidak bisa sesuka hati menghinaku, jalang!"

Herman menarik dengan kuat sehingga Ibu Jihan berbalik menghadapnya. Wajah Herman sudah dipenuhi oleh kemarahan.

"Jangan pernah kau ulangi menghinaku seperti itu!"

"Kau memang hina!" teriak Ibu Jihan.

Lihat selengkapnya