Pukul sepuluh malam coffee shop tutup, Mbak Lastri pulang lebih dulu. Kunci dipercayakan kepada Jihan. Seperti biasanya setelah kedai kopi itu ditutup, Jihan yang menyapu serta mengepel lantai dan membersihkan meja dari bekas tumpahan kopi atau remah-remah cake yang mengotori meja. Kali ini dan seterusnya Jihan merasa terbantu karena Arsakha diterima bekerja. Selamat tinggal malam-malam yang melelahkan.
"Sudah, kamu duduk saja. Biar aku yang mengerjakan semua," Arsakha merasa kasihan melihat Jihan.
Cewek cantik yang ada belahan kecil didagunya itu tak merespon ucapan Arsakha. Ia sibuk menaikkan kursi-kursi ke atas meja, agar lebih mudah untuk menyapu dan mengepel lantai.
"Kamu juga boleh pulang lebih dulu, taruh saja kunci pintunya di meja barista," Arsakha telah lebih dulu selesai menaikkan kursi-kursi ke atas meja.
Jihan mengambil kain lap dari kain linen dan semprotan pembersih, lalu melap meja dengan teliti. Arsakha memandanginya.
"Jangan khawatir, aku bukan maling," Arsa berjalan ke dapur mengambil sapu dan pengki.
Jihan masih bungkam, akhirnya Arsakha juga memilih diam. Tak ada pembicaraan lagi setelah itu. Jihan dan Arsakha sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri-sendiri. Setelah coffee shop rapi dan bersih, mereka keluar. Jihan menutup dan mengunci pintu. Udara dingin di kota pegunungan menyergap tubuh mereka. Arsakha merapatkan kancing jaketnya sedangkan Jihan sejak keluar dari coffee shop tadi memang sudah merapatkan ritsleting jaket yang ia kenakan sampai menutup leher. Mereja berjalan ke arah yang sama.
"Pulang ke mana?" Arsakha berusaha menjajari langkah kaki Jihan yang sedikit bergegas.
Jihan masih diam.
"Aku kost di daerah Kaliandra," Arsakha menjelaskan tanpa diminta.
Jihan dan Arsakha masih jalan bersisian, melangkah menyusuri trotoar yang lebar dan bersih serta tertata rapi. Sementara itu jalan raya di samping mereka sudah tidak terlalu ramai lagi. Hanya satu-dua kendaraan yang melintas. Arsa melirik Jihan yang berjalan di sampingnya. Ia sempat melihat cewek itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket.
"Selalu pulang seperti ini setiap hari?" Arsakha berusaha membuka percakapan.
"Aku tidak punya pilihan lain."
Jihan menjawab tanpa menoleh. Angin bertiup agak kencang, cewek cantik yang ada belahan kecil di dagunya itu, menurunkan sedikit bucket hat5 yang ia kenakan untuk menahan embusan angin dingin di kota pegunungan itu. Arsakha tak tahan pada udara dingin, ia memasukkan satu tangan ke saku jaket dan melipatkan tangan yang satunya lagi ke dada.
"Pulang malam dan berjalan kaki sendirian, itu memang bukan pilihan yang baik. Apalagi kamu perempuan," Arsa mendongakkan sedikit kepalanya, melihat langit. Langit malam yang tak cerah, tertutup kabut.
"Apakah kau pikir dengan bekerja, itu adalah sebuah pilihan yang baik?" Jihan bersuara lagi. Masih tetap tak menoleh atau melirik Arsa yang berjalan di sampingnya.
"Ya, paling tidak aku bisa bertahan hidup."
Jihan tertawa sinis mendengar jawaban Arsakha. Kali ini ia menoleh dan menatap cowok berwajah bagus yang sekarang jalan kaki dengannya. Menyusuri trotoar menuju pulang.
"Kau bisa bertahan hidup, tapi sekaligus kehilangan kehidupan itu sendiri. Selama dua belas jam setiap hari dalam periode kehidupan ini, semua bukan milikmu lagi. Kau sudah dibeli."
Arsakha tercekat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jihan. Ia tak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Para pekerja siapa pun itu, ia telah kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Lucunya lagi, itu dikatakan demi alasan mempertahankan hidup," Jihan terlihat semakin sinis.
"Bukankah kita harus mengorbankan sesuatu, untuk mendapatkan sesuatu yang lain?" Arsa menjawab sebisanya. Ia tak mau kelihatan bodoh di mata Jihan.
"Apakah demgan begitu, kau merasa baik-baik saja?" Jihan dengan santai melempar pertanyaan.
Arsakha terdiam. Jihan kembali tertawa sambil geleng-geleng kepala. Ia sudah terlanjur apatis menghadapi kehidupan. Baginya tak ada jalan untuk bahagia yang benar-benar bisa memberi kebahagiaan di dunia ini. Semua itu artifisial, plastik! Banyak contoh yang pernah singgah di dalam kehidupannya, semua memperkuat anggapan Jihan, bahwa tak ada yang perlu diperjuangkan mati-matian dalam hidup ini. Biasa saja.