Di warung remang-remang, Herman mabuk berat dan tak henti-hentinya menceracau. Bau alkohol menguar dari mulutnya. Seorang perempuan berdandan menor yang mendampinginya minum-minum sibuk membujuknya untuk 'menginap' dan mengancam akan meninggalkan Herman jika terus menceracau.
"Aku dulu pengusaha. Kau tahu berapa banyak properti yang kumiliki? Rumah mewah, apartemen, mobil-mobil build up8 dan jumlahnya sangat terbatas. Hanya orang-orang super kaya saja yang punya."
Perempuan berdandan menor yang menemani Herman hanya mencibir sinis.
"Jangan cerita masa lalu terus, Om!"
Orang-orang yang berada di warung remang-remang itu tertawa mengejek. Herman tak peduli. Ia terus menceracau sambil mengembuskan asap rokok berwarna kelabu dari bibirnya yang hitam.
"Setidaknya aku pernah punya masa lalu. Bahwa dulu aku seorang pengusaha kaya-raya!"
"Dulu aku simpanan seorang pejabat, tapi itu kan dulu. Sekarang terdampar di warung remang-remang seperti ini," perempuan yang bersama Herman berkomentar.
Herman tertawa mengejek.
"Kenapa kau didepak, udah nggak enak lagi apa?"
"Bukan nggak enak, Om! Dia itu sugar daddy9 banyak duit. Gitu lihat barang baru aku didepak, deh!"
"Lalu terdampar di tempat terkutuk ini?" Herman tertawa lagi.
"Doa orang terzalimi seperti aku ini, didengar Tuhan, Om. Sugar daddy itu sekarang dipenjara kena kasus korupsi."
Herman mencibir sinis.
"Kau teraniaya dan doa dikabulkan gundulmu!"
"Sudahlah, Om. Realistis saja jangan kembali ke masa lalu, capek! Sekarang kita tidur, yuk!" perempuan berdandan menor itu bergelayut di bahu Herman.
"Seandainya bisa kembali ke belakang, aku tak mau menjalin bisnis dengan rekanan bedebah itu. Ia telah merebut perusahaanku dengan cara jahat, tidak cukup sampai di situ, dia juga membuatku meringkuk dalam penjara. Bajingan!" Herman lepas kendali. Ia tak sengaja menyenggol gelas dan botol-botol minuman sehingga teejatuh dan berserakan di lantai. Pemilik warung meningatkan perempuan menor untuk membawa pergi Herman.
"Bawa dia ke kamar di belakang."
"Enak aja bawa dia ke kamar. Aku harus pastikan dulu, dia punya duit apa tidak?" perempuan berdandan menor merengut.
Herman dalam keadaan setengah sadar menoleh kepada si perempuan menor lalu merengkuh bahunya.
"Tenang sayang, aku masih punya duit banyak!"
"Bohong, sini tunjukin dulu. Jangan udah nemplok, si Om ngemplang nggak mau bayar!"
Orang-orang yang ada di warung kembali tertawa.
"Ini, ambil!" Herman melepas cincin kawin dan menjatuhkannya di meja.
Perempuan berdandan menor itu mengambil cincin dari atas meja dan memperhatikannya. Lalu ia menatap Herman.
"Cincin kawin?"