ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #12

MANUSIA PALING MALANG

Pagi ini Arsakha lebih dulu datang. Coffee shop masih tutup karena Jihan belum datang, ia yang dipercayakan Mbak Lastri memegang kunci. Tiga puluh menit lagi mencapai pukul sepuluh. Arsakha duduk di teras, menunggu kedatangan Jihan. Memikirkan cewek itu, muncul simpati di dalam hati Arsa. Ketika mendengar sekelumit kisah hidup Jihan, tentang bagaimana perlakuan kasar bapak tirinya bahkan beberapa kali hendak diperkosa. Dari situ Arsakha menjadi maklum kenapa Jihan selalu bersikap sinis, antipati pada segala hal yang berhubungan dengan lelaki. Beberapa kali Arsa ingin membuka komunikasi, tapi Jihan dengan tegas menarik garis batas. Padahal apa salahnya berbincang di saat coffee shop lagi sepi, bukankah mereka teman sepekerjaan? Tidak, Jihan tak menyediakan ruang bagi lelaki untuk berbasa-basi. Bukan hanya kepada pengunjung coffee shop, terhadap Arsakha pun sama. Jihan hanya bicara seperlunya saja, itu pun hanya masalah pekerjaan.

Hampir pukul sepuluh Jihan baru datang, ia bergegas mengambil kunci dari tas kecil yang selalu dibawanya kemudian bergegas membuka pintu. Arsa berdiri di belakang Jihan dan ikut masuk ketika pintu coffee shop telah terbuka. 

"Aku turut berduka," ujar Arsa membuka pembicaraa.

Jihan menyalakan lampu-lampu kemudian melangkah cepat menuju meja barista, menyalakan pendingin ruangan. Ia tak sedikit pun merespon, seolah Arsakha tak berada di tempat itu. Arsa menghalangi Jihan ketika akan beranjak menuju dapur.

"Kau lagi ada masalah?"

Jihan menatap sinis.

"Apa pedulimu?"

"Aku turut berduka," ujar Arsa sekali lagi.

"Aku tidak butuh basa-basi."

Jihan mendorong tubuh Arsakha. Pemuda itu mengalah dan menepi, memberi jalan untuk Jihan. Arsa mengikuti Jihan ke dapur. Cewek itu tak melakukan apa pun di dapur. Ia hanya berdiri di dekat sink11

"Jangan pura-pura sibuk, setiap malam sesudah coffee shop ini tutup, kita sudah merapikan semuanya. Ketika buka keesokan harinya, kita sudah siap menerima pengunjung."

"Bisa tidak berhenti bicara apa pun yang berhubungan dengan privacy?"

Arsakha memandang heran.

"Privacy?"

"Soal keluarga, itu privacy. Aku juga tidak harus berterima kasih atas ucapan dukacitamu itu. Basi!" Jihan beranjak dari dapur.

Arsakha juga ikut meninggalkan dapur. Ia mengikuti Jihan.

"Aku cuma bersimpati, apakah itu salah?"

Jihan berhenti melangkah dan berbalik memandang Arsa yang juga berhenti melangkah. Mereka berdiri berhadap-hadapan.

"Semua itu cuma basa-basi. Bagaimana kau bisa ikut berduka sedangkan kau baru mengenalku dan juga tidak pernah bertemu dengan orang yang meninggal itu. Dukacita seperti apa yang kau rasakan selain rasa duka yang artifisial, basa-basi, plastik!"

"Kau tak perlu mengenal korban kriminalitas atau bencana apa pun terlebih dulu, untuk sekadar ikut berduka. Itu manusiawi bagi orang yang masih punya nurani."

Jihan mencibir.

"Aku tidak percaya apakah masih ada yang benar-benar manusiawi di dunia ini."

"Seperti Bapak tirimu yang jahat, sehingga ia tak layak mendapat penghormatan, apalagi rasa duka darimu. Begitu, kan?"

Tatapan Jihan menjadi lebih sinis. Ada kemarahan yang meledak-ledak di matanya. Arsakha tersenyum dan berjalan melewati Jihan. Ia melangkah menuju pintu coffee shop, tapi belum lagi menarik grendel pintu kaca untuk keluar menuju teras, suara Jihan menghentikan langkah Arsakha.

"Apa yang kau ketahui tentang laki-laki jahanam itu?"

Arsakha berbalik, menghadapi Jihan.

"Aku tidak tahu banyak."

Jihan menatap curiga. Matanya menyelidik, seolah ingin mencari tahu sesuatu yang disimpan oleh Arsakha. Pandangan mereka beradu. 

"Jangan coba-coba masuk ke dalam kehidupan orang lain tanpa diminta," wajah Jihan menyiratkan kemarahan.

Lihat selengkapnya