ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #13

S U B T I L

Arsakha mengantarkan pesanan Pak Joe, satu shot espresso dan sepiring kecil berisi dua potong croissant. Saat meletakkan pesanan di meja, Jihan melangkah di samping Arsakha setelah ia selesai mengantarkan pesanan pengunjung yang lain. 

"Aku mau nyuci cangkir kotor di dapur, kamu handle dulu di depan," ujar Jihan kepada Arsa.

Arsa menoleh tanpa menyahut. Jihan terus saja berjalan menuju dapur. Pak Joe geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan.

"Bekerja dengan perempuan cantik itu memang menyenangkan."

Arsa masih berdiri di dekat meja Pak Joe. 

"Cantik, tapi dia garang seperti macan," Arsa menanggapi ucapan Pak Joe.

Lelaki paruh baya bernama Joe itu tertawa lagi, kemudian ia menyeruput espresso dari shot sambil memejamkan mata. Setelah meminumnya sedikit, Pak Joe meletakkan kembali cangkir kecil berisi espresso ke meja.

"Perempuan cantik memang begitu. Karena ia punya modal untuk jual mahal."

"Itu angkuh namanya," seru Arsa kesal.

Pak Joe memperhatikan Arsa dengan teliti. Lalu ia senyum-senyum sendiri.

"Kau jatuh hati padanya?"

Arsa kaget juga ditanya seperti itu. Ia tak bisa menjawab. Jatuh hati? Secara fisik, Jihan memang punya syarat lengkap untuk disukai para lelaki, tapi itu saja tidak cukup. Melihat prilakunya yang sinis, acuh dan pemarah, tentu saja banyak lelaki yang berpikir dua kali untuk mendekati.

"Sebentar Pak Joe, ada tamu yang datang."

Arsa bergegas menghampiri dua orang pengunjung yang baru masuk ke coffee shop. Itu cukup untuk menjadi alasan agar ia tak harus menjawab pertanyaan Pak Joe. Meskipun kali ini, ia tak bisa menghindar dari bayang-bayang Jihan yang berkelebat di benaknya.

Jihan sedang sibuk mencuci cangkir dan piring cake. Suara riuh para pengunjung coffee shop sedang berbincang terdengar pelan sampai ke dapur. Mungkin juga ada suara Arsa dan lelaki paruh baya kenalannya itu bercampur baur dengan pengunjung lain sampai ke tempatnya mencuci piring. Jihan meletakkan cangkir yang baru saja dibasuhnya, kemudian ia membuka kran air dan mencuci tangan tanpa mengeringkannya, setelah itu ia melangkah ke pintu dapur dan melongok ke ruang coffee shop. Jihan mencari-cari sosok Arsakha. Pemuda itu tampak sedang mencatat orderan dua orang pengunjung yang duduk di dekat pintu masuk. Ketika Arsa berbalik dan ingin mengantarkan order form, Jihan buru-buru menarik diri dan kembali menuju sink. Semua mug, shot, dripper, cake plates yang sudah dicucinya tadi belum dikeringkan olehnya. Jihan mengambil kain lap bercorak burberry berbahan linen. Satu per satu ia mengeringkan peralatan minum kopi itu dengan mengelapnya perlahan. 

Arsakha masuk ke dapur tiba-tiba sambil membawa cangkir bekas minum para pengunjung. Jihan yang sedang melamun sambil mengeringkan cangkir dengan kain lap kaget, cangkir di tangannya terlepas dan jatuh ke pinggir sink, lalu pecah berderai di lantai dapur. Arsa buru-buru meletakkan cangkir-cangkir kotor di meja dapur. Ia melihat Jihan sedang berjongkok memunguti pecahan beling yang berserak di lantai, tiba-tiba saja cewek itu berteriak mengaduh.

"Aaaw!"

Jari tangan Jihan tergores dan berdarah terkena pecahan beling. Arsa ikut berjongkok, meraih tangan Jihan kemudian mengisap jari telunjuknya yang berdarah. 

"Apaan, sih?" Jihan meringis kesakitan.

Setelah itu Arsa berdiri dan meludahkan bekas darah dari telunjuk Jihan di sink lalu membuka kran air dan berkumur-kumur.

"Sebentar, aku cari plester untuk luka."

Arsa melangkah menuju kotak P3K di pojok dapur, ia sibuk mencari-cari plester. Jihan bangkit dan bersandar di pinggir sink. Wajahnya masih meringis menahan sakit. Sesaat kemudian Arsa menghampiri sambil membawa plester luka.

"Makanya kalau kerja hati-hati, jangan melamun."

Arsa meraih tangan Jihan, lalu membalut jari telunjuk cewek itu dengan plester.

"Kalian ngapain sih, nggak ada yang jaga di depan?" Mbak Lastri melongok dari pintu dapur.

Jihan kaget dan buru-buru menarik tangannya, Arsa berbalik menoleh ke belakang, memandang Mbak Lastri.

"Jarinya Jihan terluka, Mbak. Kena pecahan beling," Arsa menjelaskan.

"Sudah, aku bisa melakukannya sendiri."

Jihan menautkan ujung plester yang belum sempat direkatkan oleh Arsa. Mbak Lastri cuma geleng-geleng kepala saja.

Lihat selengkapnya