ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #14

KEKASIH HATI

Arsakha mengunci pintu coffee shop, sedangkan Jihan berdiri di teras dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket bomber yang ia kenakan. Arsa mendekatinya kemudian memberikan anak kunci kepada Jihan. Cewek itu menerimanya tanpa bicara apa pun. 

"Ayo, pulang," ujar Arsa lembut.

Jihan melangkahkan kaki diikuti oleh Arsa yang berusaha menjajari ayunan langkah di samping cewek berwajah cantik dengan postur tubuh yang bagus. Mereka jalan berdampingan menyusuri trotoar yang mulai sepi sama dengan jalan raya di samping mereka, sepi. Hanya ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang. Udara pegunungan di kota kecil itu semakin dingin. Kabut tipis mulai turun dan membentuk sapuan abstrak di udara.

"Sampai kapan kita bisa jalan kaki berdua seperti ini?" Arsakha membuka pembicaraan.

Hening, tak ada jawaban dari Jihan bahkan menoleh pun ia tidak. Arsakha melempar pandangan ke langit, berharap bisa melihat bintang yang berkelap-kelip berpendar di atas sana.

"Mungkin nanti aku yang akan berjalan menyusuri trotoar sunyi ini sendiri," ujar Arsa pelan.

"Kok, aneh?"

Jihan menoleh dan menatap heran. Ia penasaran juga mendengar kalimat yang diucapkan oleh Arsa barusan.

Di trotoar yang mereka lalui, dedaunan kering berserakan ditiup angin. Meski terlihat kotor, tapi ada kesan artistik pada susunan daun-daun kering itu. Arsa memperhatikan semuanya. Lalu ia menoleh kepada Jihan.

"Bukankah kita seperti dedauan kering di trotoar? Setiap saat bisa saja menjauh satu sama lain. Daun-daun itu tak berdaya pada kekuatan angin yang memisahkan mereka dengan semena-mena," Arsakha mengakhiri kalimatnya.

Jihan tak bereaksi atas ucapan lelaki yang berjalan di sampingnya itu. Ia malah mengeluarkan tangan dari saku jaket kemudian membetulkan letak bucket hat di kepalanya. Ketika ia menurunkan tangan kembali, lantas dengan cepat Arsa meraihnya lalu menggenggam dengan erat. Jihan terkejut juga dengan perlakuan Arsakha yang aneh dan tak biasa seperti itu. 

Entah kenapa Jihan diam saja dan tak berusaha menarik tangannya dari genggaman Arsakha. Mungkin kalau di waktu yang salah dan orang yang tidak tepat, sudah pasti ia akan marah dan bisa jadi menggampar orang itu. Kurang ajar banget!

"Saat itu mungkin kau sudah berada jauh dari tempat ini," ujar Arsa seperti orang putus asa.

Jihan menghela napas. Ia berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan Arsakha. Genggaman tangan lelaki itu semakin erat dan terasa hangat.

"Untuk alasan apa, aku jauh dari tempat ini?"

"Kau bertemu dan berkenalan dengan orang asing yang berkunjung ke sini. Ia jatuh hati dan membawamu pulang, lalu kalian menikah dan hidup bahagia di negeri yang jauh."

Jihan merasa lelaki yang berjalan di sampingnya ini adalah sosok pendengar dan pengingat yang baik. Arsakha mengulang apa yang pernah diucapkan oleh Jihan. Bahwa ia berkeinginan pergi dari tempat kelahirannya ini, bertemu dengan orang asing lalu menikah dan pergi sejauh mungkin. Jihan ingin menutup semua luka yang pernah mendera hatinya.

"Lalu apa pedulimu, kalau aku pergi jauh dari tempat ini?" Jihan berusaha menyelidik isi hati Arsakha.

Lelaki berwajah bagus itu menghentikan langkah. Jihan juga sama, ia tak bisa terus berjalan karena tangannya masih digenggam oleh Arsakha. Kini mereka berdiri saling berhadapan di tengah trotoar. Jihan sempat melirik tangannya yang masih digenggam, seolah mengerti pada sikap yang ditunjukkan oleh Jihan, Arsa pun melepaskan genggamannya.

Lihat selengkapnya