ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #15

M A R A H

Di koridor kampus Kamila berpapasan dengan tiga orang lekaki, kakak kelasnya.

"Hai, Kamila." 

Salah seorang dari lelaki itu mencegat dan memepet hingga langkah Kamila terhenti.

"Kamu belum menjawab pernyataanku. Sombong amat, ya?"

"Minggir, aku mau pulang!" 

Kamila mendorong tubuh kakak kelasnya itu, tapi tangannya malah dicekal hingga Kamila tak bisa melangkah.

"Wah, aku ditolak, guys?" lelaki itu tertawa sambil menoleh kepada dua orang temannya.

"Dia belum tahu aja kali, kalau kamu itu anak pejabat!"

"Mana tajir mlintir lagi?"

Kedua orang teman lelaki itu ikut-ikutan tertawa mengejek dan saling berkomentar.

"Nah, dengar itu. Siapa yang nggak kenal denganku di kampus ini? Belum pernah ada cewek yang berani menolak berhubungan denganku," ujar lelaki itu jumawa.

"Sudahlah Doni, kalau kau nggak bisa menaklukkan junior kayak dia, gantung diri saja."

"Iya, percuma juga anak penggede!" 

Doni panas hati juga diejek oleh kedua orang temannya. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kamila.

"Aku tidak biasa ditolak cewek, ingat itu!"

"Dan aku tidak peduli," Kamila mendorong tubuh Doni sekali lagi. 

"Kau harus peduli, karena aku bisa mendapatkanmu dengan cara apa pun!"

"Coba saja kalau berani, kau akan dihajar Kakakku," ujar Kamila marah.

***

Arsakha sedang mencuci peralatan minum di dapur. Jihan masuk sambil membawa cangkir, shot, dripper dan piring kue bekas tamu di atas nampan.

Arsa menoleh sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya. Ketika Jihan menaruh nampan yang berisi tumpukan bekas peralatan minum di atas sink, ada cangkir yang jatuh ke lantai dan pecah berserakan. Arsa dengan cepat berjongkok mengutip pecahan beling di lantai.

"Sudah biar aku saja yang membersihkannya."

Jihan tak menghiraukan ucapan Arsakha. Ia juga ikut berjongkok mengutip pecahan beling.

"Heran, rapuh amat! Jatuh dikit aja langsung pecah?" Jihan menggerutu.

"Namanya juga kaca, sayang. Rapuhlah kayak kamu," Arsa menggoda Jihan.

Jihan merengut.

"Enak saja bilang aku rapuh, kamu itu yang cengeng!"

"Iya, aku akan jadi cengeng kalau kau menolak cin ..." Arsa terdiam tiba-tiba.

Jihan menatap Arsa yang berjongkok di depannya. Ia melihat wajah lelaki berwajah bagus itu meringis seperti merasakan sesuatu. Jihan menurunkan pandangannya ke bawah. Arsa mengepalkan tangan. Ada darah yang mengalir dari sela-sela jemarinya.

"Jari kamu terluka?" Jihan meraih tangan Arsa.

Arsakha meringis. Jihan mengisap jari tangan Arsa yang terluka. Setelah itu ia berdiri dan meludah di sink kemudian berkumur-kumur dengan air kran. Kemudian Jihan melangkah menuju kotak P3K di sudut dapur.

"Jangan sok kuat, kalau sakit mengaduh saja, berteriak kalau perlu. Jangan ditahan-tahan. Malu karena ada aku?" ujar Jihan menyindir.

Arsakha berdiri dan bersandar di pinggir sink. Jihan datang menghampiri dan meraih tangan lelaki itu. Arsakha diam saja sambil memandangi jarinya yang terluka. Jihan menempelkan plester untuk membebat luka di jari Arsakha. Mereka sempat bertatapan.

"Apa?" suara Jihan terdengar bergetar.

Lihat selengkapnya