ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #16

AKU ADIKMU, KAK!

Malam itu Pak Joe kembali mendatangi coffee shop dan kali ini, ia dilayani oleh Jihan karena Arsakha lagi sibuk di dapur sedang mencuci cangkir dan piring bekas tamu. Suasana coffee shop juga tidak terlalu ramai hanya tinggal tiga meja yang berisi termasuk yang ditempati Pak Joe. 

"Arsakha, mana?" Pak Joe celingukan. 

"Ada di belakang lagi nyupir."

Pak Joe bengong sambil menatap Jihan.

"Nyupir?"

"Yaelah, Pak. Nyuci piring! Gitu aja nggak ngerti?' Jihan mencibir.

Pak Joe tertawa, Jihan selesai menulis pesanan Pak Joe dan hendak berbalik menuju meja barista.

"Bagaimana kau dengan Arsa, sudah ada kesepakatan?"

Jihan berhenti melangkah dan kembali memandang kepada Pak Joe.

"Kesepakatan dagang?"

"Cinta bukan soal untung rugi, Nona," Pak Joe senyum-senyum.

"Kalau begitu, siap-siap aja. Bapak akan patah hati," Jihan kembali melangkah menuju meja barista.

"Cinta adalah anugerah yang tiada tara. Berbahagialah siapa pun yang bisa merawatnya," gumam Pak Joe.

Mbak Lastri menerima orderan yang dibawa Jihan. 

"Bapak yang kemarin?" tanya Mbak Lastri iseng.

Jihan menoleh sekilas ke belakang, menatap ke arah meja Pak Joe, kemudian kembali menatap Mbak Lastri yang mulai sibuk menyeduh kopi.

"Lelaki paling malang di dunia," ujar Jihan acuh.

Mbak Lastri tertawa pelan.

"Kok, kamu tahu?"

"Dia sendiri yang bilang," sahut Jihan datar.

Arsakha muncul dari dapur membawakan beberapa cangkir dan dripper yang sudah dicuci bersih, ke ruang barista. Setelah itu ia beranjak keluar, ketika melewati Jihan yang sedang berdiri di depan meja barista, Arsakha berhenti melangkah.

"Lagi nungguin orderan?"

"Nunggu jodoh!" sahut Jihan asal-asalan.

"Arsa!" dari mejanya Pak Joe melambai.

Jihan mencibir.

"Dipanggil mentor, tuh!"

"Nanti kita ngobrol yuk, di meja Pak Joe," ujar Arsa menawarkan.

"Mau dipecat Mbak Lastri?" sahut Jihan kesal.

"Nggak apa-apalah, lagi sepi begini," Arsakha melangkah pergi.

Jihan memperhatikan Arsakha, lelaki yang telah mengusik hatinya dan ia tak ingin mengelak lagi. Jihan membuka pintu hati dan mempersilakan Arsakha masuk dan bersemayam di sana. 

"Jihan, ini pesanannya," ujar Mbak Lastri.

Jihan tersenyum sendiri. Ia masih memperhatikan Arsakha mendekati meja Pak Joe. 

"Jihan?" tegur Mbak Lastri sekali lagi.

Jihan tersadar dan menoleh.

"Ya, Mbak?"

"Ini orderannya sudah siap, anterin sana."

Jihan mengambil satu shot espresso dan sepiring kecil croissant dan meletakkannya di atas nampan yang tersedia di meja barista. Sementara itu Mbak Lastri memperhatikan Jihan.

"Kenapa, ada masalah lagi?" tegur Mbak Lastri menyelidik.

"Nggak, Mbak," sahut Jihan datar tanpa ekspresi.

Mbak Lastri tersenyum menggoda.

"Wajah nggak bisa bohong."

"Apaan sih, Mbak?'

 Jihan merengut sambil mengangkat nampan yang berisi espresso dan sepiring croissant. Mbak Lastri tertawa melihat Jihan melangkah pergi membawa orderan.

Di meja Pak Joe, Jihan meletakkan orderan dengan wajah datar tanpa senyum. Arsakha duduk berhadapan dengan Pak Joe.

"Kebahagiaan adalah ketika dirimu tengah memegang lengan seseorang dan saat itu, kau sedang memegang seluruh dunia," ujar Pak Joe bijak.

"Orhan Pamuk," ujar Arsa menyahuti.

"Exactly! Kau memang pembaca buku yang baik," puji Pak Joe.

Jihan menyelesaikan pekerjaannya menaruh pesanan di atas meja. Pak Joe menatap Jihan.

"Hai, Nona cantik. Apakah tanganmu pernah dipegang seseorang, seperti kata-kata Orhan Pamuk itu?"

"Semua kehidupan dan hubungan manusia menjadi begitu rumit, sehingga ketika anda memikirkannya, itu menjadi menakutkan dan hati anda diam," ujar Jihan tenang dan ekspresi yang datar.

Pak Joe dan Arsakha terperangah. Mereka serempak menatap Jihan yang masih berdiri sambil memegang nampan yang ia sandarkan di dadanya.

"Itu Anton Chekhov!" seru Pak Joe gembira.

"Ternyata kau pembaca Chekhov, sayang?" Arsa terpesona memandang Jihan.

Lihat selengkapnya