Arsa meminta kunci mobil, lalu menyuruh Kamila naik sambil membukakan pintu untuk adiknya itu. Tanpa banyak tanya cewek berusia sembilas belas tahun yang terlihat menggigil dibalik sweater yang ia kenakan bergegas masuk ke mobil. Ia menyesal tidak membawa jaket. Sekarang rasanya seperti berada di kutub utara. Ah, Bandung saja tidak sedingin ini, gerutunya dalam hati.
Arsakha masuk ke mobil dan menyalakan mesin, setelah melepas rem tangan, ia langsung membenam gas sehingga mobil terasa melompat. Di jok samping Kamila menoleh dan menatap heran.
"Ada apa sih, Kak?"
"Jihan," sahut Arsakha sambil menyetir dan melihat-lihat ke arah trotoar di luar sana.
Kamila terdiam dan berpikir sejenak.
"Jihan itu siapa?"
"Teman kerja."
Kamila tersenyum.
"Pasti pacarnya, Kak Arsa?"
Arsakha tak merespon ucapan Kamila, ia masih sibuk mengamati sepanjang trotoar sambil menyetir. Di kejauhan tampak sosok Jihan sedang jalan bergegas, Arsakha menambah kecepatan mobil dan sebentar saja sudah melampaui Jihan. Arsakha menepikan mobil dan tanpa mematikan mesin, ia membuka pintu mobil lalu turun dan mendatangi Jihan yang tertinggal sekitar dua puluhan meter di belakang. Kamila yang masih berada di dalam mobil terheran-heran melihat sikap kakaknya yang aneh itu. Mesin mobil ditinggalkan dalam keadaan masih menyala dan pintu pun dibiarkan terbuka. Kamila melihat ke belakang melongok dari jendela mobil.
"Ada apa, sih?" ia bertanya-tanya sendiri.
Di trotoar jalan, Arsakha mendekati Jihan yang memperlambat langkahnya ketika melihat lelaki yang barusan saja membuat hatinya terguncang. Ia ingin menghindar, tapi percuma saja. Arsakha sudah berada begitu dekat dengannya.Â
"Jihan," tegur Arsakha
Cewek jangkung berwajah bagus dengan belahan kecil di dagunya itu berhenti melangkah. Matanya terlihat sembab karena menangis. Ia mencoba menyembunyikan sisa tangis dengan menyeka wajah dengan punggung tangan. Ujung rambutnya yang menyembul dari balik bucket hat yang ia kenakan nampak bergeriap di tiup angin malam. Arsakha melangkah lebih dekat lagi.
"Kenapa pulang diam-diam?"
"Apa pedulimu?" ujar Jihan berusaha untuk tetap tenang.
"Kok, jadi aneh?" Arsakha heran, menatap Jihan. Lekat-lekat.
"Tidak ada yang aneh, sudahlah biarkan aku pulang," Jihan berusaha melangkah.
"Tunggu," Arsakha memegang bahu Jihan.