Arsakha sedang berkemas mengepak pakaiannya ke dalam sebuah koper dan ransel. Ia sudah bertekad untuk pulang ke rumah orangtua kandungnya. Sudah cukup ia merasa disisihkan di rumah paman dan bibi yang mengasuh sejak kecil dan menjadikannya sebagai anak angkat, karena mereka belum memiliki anak meski sudah lama menikah. Kehadiran Arsakha kecil membuat rumah paman dan bibinya menjadi hangat dan bergairah. Dua tahun setelah kehadiran Arsakha, bibinya pun hamil lalu melahirkan bayi mungil perempuan yang diberi nama Kamila Putri. Arsakha kecil sudah merasakan perbedaan perlakuan dan perhatian paman dan bibinya sejak kehadiran Kamila. Meski ia tak begitu mengerti dan merasakan sakitnya disisihkan, tapi luka di hatinya perlahan meninggalkan bekas sehingga ia remaja. Arsakha sendiri tahu bahwa ia adalah anak angkat, tapi Arsakha kecil tidak mengerti kalau ia diharapkan sebagai anak pancingan bagi paman dan bibinya. Barulah setelah berangkat remaja, Arsakha mengerti bahwa kehadirannya tidak benar-benar diharapkan selain sebagai anak "pancingan" yang entah sejak kapan kepercayaan seperti itu menjadi sebuah tradisi. Arsakha benci pada takdirnya, ia marah ketika dianggap sebagai objek.
Gambar demi gambar kehidupan masa kecil muncul dari alam bawah sadar, benak Arsakha kembali memutar semua kenangan itu di pelupuk mata. Sakit sekali rasanya ketika kau tak cukup berharga di mata orang-orang terdekatmu dan kau disisihkan begitu saja, ketika mereka sudah mendapatkan apa yang ingin mereka ambil darimu. Mereka punya alasan sendiri untuk meraih kebahagiaan lalu melukai hatimu tanpa sedikit pun merasa bersalah.
"Arsa, jadi pulangnya?"
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dan dipanggil dengan sebutan mama oleh Arsakha, masuk ke kamar dengan tiba-tiba. Arsakha diam saja, ia masih sibuk menyelesaikan kesibukannya mengepak pakaian ke dalam koper dan ransel.
"Iya, cukup bawa segitu saja pakaiannya, jangan semua. Bikin repot di jalan. Oh ya, rencananya mau berapa lama di sana?" ujar mama lagi.
Arsakha menoleh sekilas kemudian beralih pada koper yang belum ditutup. Ia menyibukkan diri mengunci koper dan memeriksa kancing-kancing ranselnya.
"Arsa?" tegur mama lagi.
"Arsa pulang nggak balik lagi, Ma?" Arsakha menjawab tanpa memandang mama.
Wajah perempuan paruh baya itu terlihat kaget. Ia menatap Arsa dengan tajam. Seolah ingin masuk ke dalam hati anak angkat yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Ia ingin menyelami dasar hati Arsakha. Ada apa, Nak?
"Kau mau meninggalkan rumah ini? Menafikan semua kenang-kenangan di dalamnya?"
"Apa bedanya kalau Arsa tetap tinggal di rumah ini atau pergi? Nggak ada, Ma. Hidup akan terus berlanjut. Mama, Papa dan Kamila tidak akan kehilangan apa pun. Kenang-kenangan itu abadi, dia akan tersimpan di hati, Mama."
"Mama harus bicarakan hal ini dengan Papamu. Bisa saja ia tak setuju dan keberangkaranmu besok dibatalkan."
Mama keluar dari kamar. Arsakha mematung, ia membisu dan tatapan matanya kosong. Peristiwa yang sama terulang lagi. Bahwa ia diharapkan hanya sebagai objek, pengisi rumah dan sekadar meramaikan suasana. Apakah mama dan papa pernah bertanya bagaimana hari-harinya, keinginannya dan masalah yang sedang ia hadapi? Tidak, itu hanya milik Kamila Putri. Anak kandung mama dan papa. Untuk Arsa, mama dan papa hanya memenuhi kebutuhan materi saja, tidak lebih. Kering tanpa sentuhan kasih sayang dan perhatian seperti di awal kehadirannya di rumah ini, dua puluh satu tahun yang lalu. Meski Arsakha kecil belum memahami apa itu keberpihakan, tapi jiwa anak-anaknya mengerti apa itu kasih sayang dan belaian lembut yang menenangkan. Ia tahu, tapi tak bisa mengungkapkannya.
"Kak Arsa, ayo makan!"
Itu suara Kamila Putri, anak kandung mama dan papa. Arsa masih diam, ia tak menjawab. Hatinya marah, setiap kali makan malam yang diwajibkan harus bersama, selalu saja ia dipanggil dari jauh. Mama dan Kamila sama saja, mereka selalu berteriak memanggil ketika waktu makan malam tiba. Seperti memanggil anjing! Arsakha mengumpat dalam hati. Hanya Bik Sumiati yang setiap kali disuruh memanggil Arsakha untuk keperluan apa pun itu, ia selalu datang ke kamar, mengetuk pintu dan berbicara baik-baik. Arsakha merasa diperlakukan sebagai manusia bukan binatang.
Tok! Tok!
Suara pintu kamar di ketuk dari luar. Arsa masih diam.
"Nak, Arsa?" suara Bik Sumiati terdengar dari balik pintu.
Perlahan Arsa melangkah membukakan pintu dan sosok Bik Sumiati telah berdiri di depannya.
"Nak Arsa, dipanggil Ibu. Waktunya makan malam," ujar Bik Sumiati lemah lembut.
"Iya, Bik," jawab Arsa masih berdiri mematung
"Sudah keluar sana. Iya, iya, tapi nggak jalan juga."