Arsakha berjalan di koridor gerbong kereta sambil mencari-cari tempat duduk. Setelah menemukan kursi yang sesuai dengan nomor di tiketnya, Arsa meletakkan koper dan ransel yang ia bawa di bagasi, di atas tempat duduk. Arsakha mendapat kursi di samping jendela. Seorang lelaki tua sudah lebih dulu menempati tempat duduk di sampingnya.
"Permisi, Pak," Arsa mengangguk hormat hendak melewati lelaki tua itu.
"Oh ya, silakan, Nak."
Lelaki tua itu tersenyum sambil menggeser sedikit kakinya untuk memberi Arsa jalan. Setelah duduk Arsa tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya melempar pandangan keluar jendela. Hidup baru akan dimulai setelah ini. Tak tahu sambutan seperti apa yang akan ia terima nanti. Arsa sudah lama tak bertemu dengan bapak dan ibu serta saudara kandungnya. Mungkin sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu. Ia tak begitu pasti dan malas menghitung-hitungnya.
Kereta mulai bergerak, perlahan meninggalkan stasiun. Arsa masih memandang keluar lewat jendela. Lelaki tua di sebelahnya terbatuk-batuk sebentar. Arsa tak bereaksi, ia masih asyik memandang keluar. Melihat gerakan kereta yang semakin lama bertambah cepat, sehingga mengaburkan objek pandangannya.
"Mau kemana, Nak?"
Tiba-tiba saja lelaki tua di sebelahnya membuka pembicaraan. Arsa membetulkan cara duduknya dan menoleh kepada lelaki tua itu.
"Pulang, Pak," Arsa menjawab singkat.
"Pulang ke mana?"
"Rumah."
"Oh, di kota merantau, ya? Lalu setelah sekian lama, kau pulang ke rumah karena rindu. Rumah memang tempat pulang yang paling hangat," lelaki tua itu tertawa pelan.
Arsa diam saja.
"Maaf kalau saya terlalu ingin tahu. Tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin punya teman ngobrol saja. Perjalanan ini akan terasa panjang kalau kita hanya berdiam diri. Sebagian yang lain mengambil kesempatan untuk tidur. Dasar pemalas!"
"Sepuluh jam, Pak. Itu akan sangat membosankan," Arsa menanggapi.
Lelaki tua itu tertawa lagi.
"Ya, sepuluh jam. Kau benar jika menghitungnya secara mate-matika. Kau tahu hidup ini tidak melulu dihitung dengan angka. Kau juga perlu sentuhan rasa. Karena kita manusia, bukan robot. Setiap kita perlu teman, kawan, sahabat atau apalah namanya."
Arsa menarik ritsleting jaketnya hingga menutup leher. AC di dalam gerbong terasa lebih dingin dibandingkan tadi, sejak kereta berangkat dari stasiun.
"Siapa namamu, anak muda?"
"Arsa, Arsakha Faiz Bahtiar."
"Bagus nama itu," puji Si Lelaki Tua.
"Apalah arti sebuah nama?" gumam Arsa tanpa semangat.
"William Shakespeare, ha?"
"That which we call a rose by any other name would smell as sweet," ujar Arsa tanpa menoleh.
Lekaki tua yang duduk di samping Arsa tersenyum. Ia memandang Arsa dengan perasaan kagum.
"Ya, tepat sekali. Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi. Ah, kau pembaca Shakespeare rupanya," ujar lelaki tua itu gembira.
"Orhan Pamuk, Anton Chekhov, Boris Pasternak, Emily Bronte," Arsa dengan lancar menyebutkan nama-nama penulis yang bukunya pernah ia baca.