Di luar sana langit terlihat berwarna merah tembaga. Hari sudah senja. Arsakha yang sempat tertidur beberapa jam, terbangun dan melongok suasana senja di luar kereta. Ia melihat jam dari ponselnya. Pukul tujuh belas, lewat sepuluh menit. Lebih kurang satu jam lagi, Arsakha akan sampai di kota kecil tempat ia dilahirkan. Meski hanya sebentar sempat menghirup udara di kota kelahirannya ini. Usia lima bulan, ia sudah diboyong pamannya ke kota besar dan diangkat menjadi anak. Belakangan baru Arsakha tahu, bahwa keputusan ayah dan ibunya merelakan ia diambil menjadi anak angkat oleh pamannya bukanlah karena faktor ekonomi. Meski ayah Arsakha hanya pegawai negeri biasa, tapi tidaklah kesulitan membesarkan ketiga anaknya. Arsa adalah si bungsu yang seharusnya mendapatkan kadar sayang lebih besar daripada kedua saudaranya yang lain, tapi atas nama hubungan kakak-adik, antara ayah dan pamannya, Arsakha pun diserahkan kepada adik ayahnya yang belum memiliki anak.
"Sudah berapa lama kau tidak berjumpa dengan Ayah dan Ibumu?"
Arsakha terkejut. Ia tidak tahu kapan lelaki tua yang duduk di sebelahnya itu terbangun. Lelaki tua itu tersenyum. Terlihat lebih segar dan bersemangat. Tidak tahu apakah kesegaran itu didapatkan dari tidurnya yang lelap atau disebabkan ia telah berhasil melepas sedikit beban berat di hatinya karena menemukan kawan bicara yang sepadan. Jauh di lubuk hatinya, lelaki tua itu sangat mengagumi Arsakha. Dari pembicaraan panjang sebelum mereka tertidur tadi, lelaki tua itu menilai, pada dasarnya Arsakha adalah sosok yang hangat dan ramah, tapi masa lalunya yang membuat pemuda itu menjadi pendiam, dingin, tertutup dan terlihat acuh pada orang-orang di sekitarnya. Arsakha merasa tak ada lagi yang tersisa dari dirinya untuk dibagikan kepada siapa pun. Semua telah habis dan yang tinggal hanya kecewa serta rasa sakit yang tak tertahankan.
"Sebentar lagi kau akan sampai," lelaki tua itu bersuara lagi.
"Aku sudah lama tidak berjumpa dengan mereka," Arsa bergumam pelan seperti untuk dirinya sendiri.
"Tentu kau rindu sekali?"
Arsa menoleh, memandang lelaki tua yang duduk di sebelahnya dengan mata bertanya-tanya. Ia merasa aneh mendengar pertanyaan dari lelaki tua itu.
"Rindu?" ujar Arsakha dengan pertanyaan yang mengambang.
"Ya, rindu. Rasa yang menggebu-gebu ingin bertemu."
"Bertemu siapa?"
"Ayah dan ibu serta saudara-saudaramu? Terutama Ibu, karena kau lelaki. Pasti kau anak Ibumu."
"Bahkan aku hanya sempat menyusu selama lima bulan. Sekuat apa ikatan batin antara Ibu dan anak yang didapat dari hubungan sesingkat itu?"
Lelaki tua di sebelah Arsakha tercenung. Ternyata ia belum mengetahui banyak tentang pemuda ini. Arsakha telah direnggutkan dari puting susu ibu sebelum waktunya, tentu saja atas nama persaudaraan. Orangtua memang lebih sering menganggap anak adalah hak miliknya, sehingga mereka merasa berhak melakukan apa saja. Termasuk mengabaikan perasaan seorang anak yang berasal dari darah dagingnya sendiri. Bukankah mereka itu sekelompok tiran yang bertopeng malaikat surga?
"Baiklah, tapi jangan lupa. Selama sembilan bulan lebih kau bersemayam di rahim perempuan itu. Kau makan dari saripati tubuhnya dan kau cuma menyusahkan siang dan malam. Kakinya bengkak, pinggang serasa mau patah. Semakin sempurna kau di dalam perut ibumu, semakin susah perempuan itu berbaring. Waktu istirahatnya jadi berkurang, karena kau lebih sering memberinya rasa sakit. Bagi Ibumu semua rasa sakit itu adalah bentuk komunikasi antara kau dengannya. Apakah atas semua itu, kau masih bertanya apa itu rindu?"
Arsakha terdiam. Hidup baginya seperti sebuah garis panjang tak berujung dan ia terputus di tengahnya lalu hilang begitu saja. Ah, kenapa hidup bisa serumit ini? Arsa menarik napas dalam-dalam, lalu mengempaskannya perlahan dengan begitu ia berharap otaknya akan memproduksi hormon endorphin yang menghadirkan rasa tenang dan nyaman.
"Kau dendam pada kehidupan ini, Arsakha?"
"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli."
Lelaki tua yang duduk di sebelah Arsakha tersenyum.
"Kemarahan seperti itu yang kutemukan dalan novelnya Emily Bronte. Wuthering Heights yang menceritakan kegelapan, mengangkat sisi lain manusia. Bahwa tidak semua kita hidup dalam keadaan baik-baik saja. Ada yang menjadi gila karena terlalu banyak menyimpan kemarahan, dendam dan sakit hati."