ANAK PUNGUT

Onet Adithia Rizlan
Chapter #5

L U K A

Jihan pulang ke rumah pada siang hari yang terik, panas matahari seperti membakar kepalanya. Baru saja berada di pintu depan, Jihan sudah mendengar suara televisi dari dalam rumah. Ia membuka pintu dengan pelan lalu melangkah masuk. Suasana di dalam rumah terasa lebih sejuk dibandingkan dengan di luar tadi. Jihan melintas di ruang tengah, suara televisi semakin terdengar lebih keras, berisik seperti di lapak pedagang DVD bajakan. Ayah tirinya duduk berselonjor di sofa panjang sambil merokok. Jihan muak melihat lelaki gemuk pemalas itu. Suara televisi dikecilkannya.

"Hei! Kenapa kau suka mengganggu kesenangan orang?!"

"Suaranya terlalu keras, terdengar sampai luar, kayak orang kampung baru punya tivi saja!" sahut Jihan sambil berjalan masuk ke kamarnya. 

Jihan tak habis pikir kenapa ibunya bisa jatuh hati kepada laki-laki tak bertanggung jawab seperti itu. Kerjanya seharian hanya nonton televisi atau pergi keluar bersama dengan teman-temannya. Kemana lagi kalau bukan ke warung minum yang berisi perempuan-perempuan berdandan menor? Jihan juga heran, apakah ibunya tidak mengetahui kelakuan suami barunya itu atau sengaja menutup-nutupinya, supaya tidak menambah malu di mata keluarga? Ah, betapa malangnya kau ibu. Bisik hati Jihan yang dipenuhi kemarahan.

Jihan melucuti pakaian dan melemparnya ke sudut kamar. Tiba-tiba pintu terbuka, ayah tirinya berdiri di ambang pintu. Jihan terkejut lalu buru-buru meraih selimut di atas ranjang untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.

"Aku mau pergi. Nanti kalau Ibumu pulang, katakan aku keluar sebentar."

"Tidak usah pulang sekalian, itu lebih bagus!" teriak Jihan dengan nada tinggi.

Ayah tiri Jihan kembali menutupkan pintu kamar dan meninggalkan senyum nakal yang menyeringai. Jihan benci sekali dengan ayah tirinya itu. Lelaki bermata serigala yang sewaktu-waktu siap menerkamnya. Lelaki gendut itu pernah beberapa kali menoba memperkosa, tapi gagal karena Jihan melawan dengan sengit. Itulah sebab di bawah bantalnya Jihan selalu menaruh sebilah pisau belati untuk berjaga-jaga. Karena kunci pintu kamarnya selalu rusak meskipun telah diperbaiki berkali-kali. Jihan curiga kalau itu adalah perbuatan ayah tirinya.

Sebenarnya Jihan ingin segera pergi dari rumah. Ia muak melihat kebodohan ibunya yang menikah lagi. Padahal dulu ia ditinggal kawin suaminya--ayah kandung Jihan--yang berniat poligami, karena ia tak memberi restu hingga akhirnya dicerai. Ah, perempuan yang malang. Keluar dari mulut buaya masuk ke kandang harimau! Begitulah Jihan menggambarkan kondisi Sang Ibu. Suami barunya itu pemalas, tidak punya pekerjaan tetap dan sehari-seharinya lebih sering ongkang-ongkang kaki. Ibunya yang banting tulang bekerja di pabrik konveksi, mengambil upah borongan menjahit pakaian.

Jihan selalu mengatakan ibunya bodoh, karena bersedia disakiti dan dikecewakan oleh laki-laki yang bergelar suami. Lihat saja suami barunya itu, lelaki culas yang mau menang sendiri dan abai pada tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Namun, berkali-kali juga ibunya menuduh kalau Jihan-lah perempuan bodoh. Menunggu kepulangan Lintang, kekasihnya yang bekerja di luar negeri dan sudah tiga tahun Jihan menunggu dalam ketidakpastian. Belum ada tanda-tanda kalau Lintang akan segera pulang dan melamarnya. Jihan memang merasa dirinya bodoh, tapi cinta itu telah membutakan mata dan hati. Mau tak mau ia harus rela menunggu lelaki yang telah merenggut kehormatannya atas nama cinta yang omong kosong!

Setelah merasa pasti kalau ayah tirinya sudah pergi dari rumah, barulah Jihan mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut dan tangan diselipkan ke bawah bantal, menggenggam sebilah belati. Jihan berusaha memejamkan mata untuk tidur barang sejenak, membuang semua resah di hatinya. Hidup ini begitu sulit! Itu yang ia gumamkan sebelum jatuh tertidur. Sebuah bentuk pembangkangan kepada Sang Pencipta. Bahwa Tuhan hanya memberi kesulitan dalam hidupnya.

***

Hari ini siang sama teriknya seperti kemarin. Panas menggelegak dan suara televisi dari ruang tengah memekakkan telinga. Bergegas Jihan keluar kamar dan mematikan televisi.

"Setan!" bentak lelaki gemuk yang duduk selonjor di sofa panjang.

"Kau yang setan! Seharian cuma duduk santai di rumah, malam keluyuran. Kau pikir, kau siapa?!" kemarahan Jihan sudah tak tertahankan lagi.

Lelaki gemuk, ayah tiri Jihan itu berdiri dengan muka merah padam. Memburu Jihan lalu menampar serta memukuli anak tirinya itu tanpa ampun. Jihan tak menjerit atau mengaduh kesakitan, meski tamparan, pukulan serta tendangan lelaki gemuk itu kuat bukan main.

"Cukup, Herman!" ibu Jihan muncul tiba-tiba. Entah kenapa dia pulang cepat hari ini. Mungkin sedang tidak banyak jahitan di pabrik.

"Ajari anakmu ini sopan-santun!"

Lelaki gemuk bernama Herman itu memukul sekali lagi wajah Jihan yang tersudut ke dinding, dekat meja televisi. Setelah puas memukuli anak tirinya itu, Herman beranjak masuk ke kamar. Jihan menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ibunya datang menghampiri.

"Cobalah bersikap baik pada Ayah tirimu itu."

Jihan meludah bercampur darah.

"Lelaki setan itu sebaiknya mati saja!" geram Jihan marah.

Terdengar suara ketukan di pintu depan. Ibu Jihan bergegas membukakan. Di luar, seorang anak lelaki berdiri menunggu. Lanang, adiknya Lintang. Jihan mendengar suara Lanang yang dikenalnya. Ia juga bergegas keluar dan melihat Lanang memberikan sesuatu kepada ibunya.

"Apa itu, Nang?" tegur Jihan ramah.

"Surat undangan, Mbak."

Lihat selengkapnya