Hari ketiga berada di rumah orangtua kandungnya, Arsakha belum juga menemukan apa yang ia cari selama ini. Merasakan keberadaannya cukup dihargai dan dianggap menjadi bagian dari satu keluarga yang hangat, saling berbagi cerita, saling menguatkan. Bukan seperti berada di perhentian jalan, mengaso sebentar lalu masing-masing pergi dan menggeluti dunianya sendiri. Rumah hanya dijadikan perhentian sementara dan esoknya kembali sibuk pada urusan sendiri-sendiri. Itu saja sudah membuat hati menjadi kering. Tak ada empati. Masalah Arsakha bukan hanya ia merasa tidak dianggap, tapi malah memberatkan Arya, kakak lelakinya. Arya keberatan kalau ia harus berbagi kamar dengan Arsakha. Hari pertama saja perasaan Arsa sudah tak enak. Pembicaraan itu terjadi di meja makan.
"Arsa mau tidur di mana, Bu?" Arya membuka percakapan.
Arsakha yang tengah makan sempat berhenti mengunyah nasi. Lalu ia memandang kepada ibu. Semua pandangan tertuju kepada perempuan itu. Ayah, Arya, Arsa dan Arini, kakak perempuan Arsakha, satu-satunya anak perempuan di keluarga mereka. Ibu juga balas memandang mereka satu per satu. Setelah itu, ibu menatap lama kepada Arya.
"Kamar di rumah kita cuma tiga, Arya. Kau harus berbagi kamar dengan Arsakha. Apa dia harus tidur di kamar, Arini? Kalian sudah dewasa, kalau masih anak kecil, tidak apa-apa, Arini berbagi kamar dengan Arsakha."
Arsakha menatap Arya, kakak sulungnya. Ada rasa keberatan di wajah pemuda berusia 25 tahun itu. Untuk memperkuat ketidaksetujuannya dan memprotes ucapan ibu, Arya meninggalkan meja tanpa menghabiskan makan malamnya.
"Cari alternatif lainlah," ujar Arya sambil melangkah.
Arsa menatap ibunya.
"Biar Arsa tidur di ruang tengah saja, Bu."
"Itu juga lebih baik!" Arya menyahut sebelum ia menghilang di balik dinding pembatas antara ruang makan dan ruang keluarga.
Arsa mengalah karena ia merasa tak punya hak juga, datang belakangan lalu mengacak-acak kenyamanan Arya. Tak ada pembelaan dari ayah dan ibunya, apalagi Arini. Kakak keduanya itu hanya diam sebagai pendengar. Arsakha tidak tahu tanggapan Arini mengenai sikap Arya yang terang-terangan menunjukkan sikap egoisnya. Makan malam diteruskan tanpa Arya dan tanpa bicara. Tak ada lagi yang mau membahas soal berbagi kamar. Bagi ayah dan ibu, soal itu sudah selesai karena Arsakha bersedia tidur di ruang tengah, ruangan yang menjadi tempat keluarga untuk berkumpul sembari menonton televisi.