Blurb
Bagi Kinanti (17), penolakan dunia adalah racun yang membekukan eksistensinya. Mengidap Gangguan Kepribadian Ambang membuatnya terus berjalan di atas seutas tali rapuh; setiap kali ia gagal mendapatkan apa yang ia inginkan, jiwanya mati rasa.
Satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa dirinya masih ada adalah dengan menggoreskan silet ke lengan—sebuah ritual parut yang ia sebut coretan seni. Namun, ketika silet tidak lagi mampu menembus dinding mati rasa di tubuhnya, Kinanti mulai kehilangan arah. Rantai peran sosialnya sebagai sahabat, murid, dan anak perempuan penurut perlahan runtuh dan menjauh.
Dikurung dalam kesunyian rumah orang tuanya yang dingin, ia beralih ke paku beton dan tang karat untuk memburu rasa linu yang hilang. Ketika rasa sakit fisik bermutasi menjadi sebuah kedamaian yang candu, Kinanti menyadari sebuah delusi baru: jika dunia bisa merampas semua impian dan identitasnya, maka ia juga berhak melucuti pertahanan terakhir raga miliknya sendiri.
Sebuah kisah sastra horor psikologis yang pekat tentang kesepian, krisis identitas remaja, dan sebuah perayaan ngeri dari tubuh yang nekat merebut kedaulatannya sendiri lewat aturan yang mutlak dan abadi.