Anatomi Kanvas Mati

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #3

Bab 1: Kebas

Papan pengumuman di koridor tengah sekolah selalu memiliki bau yang khas: campuran lem kertas yang mengering dan aroma kecemasan yang ditinggalkan oleh puluhan murid. Bagi Kinanti, papan kayu berlapis flanel hitam itu hari ini terasa seperti sebuah jembatan gantung yang talinya baru saja putus.

Namanya tidak ada di sana.

Pada baris paling atas lembar keputusan kepala sekolah, di bawah judul besar Ketua Panitia Pelaksana Festival Seni Tahunan, nama yang tertera adalah Amelia Putri. Bukan Kinanti.

Bukan gadis yang selama tiga minggu terakhir mengurung diri di kamar, menyusun proposal setebal empat puluh halaman hingga matanya merah, dan melewatkan makan malam bersama orang tuanya demi menyempurnakan konsep dekorasi.

Dunia, sekali lagi, menggeser Kinanti ke tepian tanpa suara.

"Kin?" sebuah tepukan ringan mendarat di bahu seragamnya.

Kinanti tidak melonjak. Ia hanya merasakan denyut halus di pangkal lehernya, sebuah reaksi otomatis ketika ruang pribadinya ditembus. Ia menoleh lambat, memaksakan ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk topeng yang sudah ia latih di depan cermin kamar mandi selama bertahun-tahun.

Rara berdiri di sana, memeluk sebuah map plastik transparan. Wajah sahabatnya itu dipenuhi gumpalan rasa kasihan yang membuat Kinanti ingin muntah.

"Gue baru liat pengumumannya," ucap Rara, suaranya sengaja diredam, seolah-olah nama Kinanti yang tersingkir adalah sebuah aib medis yang menular. "Lu... nggak apa-apa, kan? Maksud gue, anak-anak OSIS emang agak subjektif sih tahun ini. Amel kan sepupunya sekretaris umum, jadi—"

"Gue nggak apa-apa kok, Ra," potong Kinanti. Suaranya datar, renyah, dan mengalir terlalu lancar untuk seseorang yang baru saja impiannya dihancurkan. "Bagus, kok. Amel punya banyak relasi buat nyari sponsor. Konsep gue mungkin emang terlalu ribet buat ukuran pensi sekolah hehe."

Rara mengernyit, menatap Kinanti dengan sepasang mata yang mencoba mencari retakan di balik ketenangan itu. "Tapi lu udah begadang penuh, Kin. Lu bahkan nggak ikut nongkrong di kantin pas jam istirahat cuma buat kelarin anggaran biaya. Lu beneran nggak kecewa?"

Kecewa? Kata itu terlalu sederhana. Apa yang dirasakan Kinanti saat ini melompat jauh melewati batas kekecewaan. Di dalam dadanya, ada seonggok ruang hampa yang mendadak meluas, menyedot semua emosi, amarah, dan eksistensinya hingga ia merasa tubuhnya seringan abu rokok. Ia merasa tidak nyata. Ia merasa seolah-olah jika Rara menembakkan peluru ke arahnya, peluru itu hanya akan menembus udara kosong.

"Kecewa dikit, sih," Kinanti berbohong, menambahkan tawa kecil di ujung kalimatnya agar terdengar manusiawi. "Tapi ya mau gimana lagi? Kan udah ketok palu. Lagian, gue jadi punya banyak waktu buat rebahan di rumah toh."

"Lu tuh ya, selalu aja santai banget," Rara mengembuskan napas lega, tampaknya tertipu oleh akting sahabatnya. "Gue yang liatnya aja pengen ngelabrak ruang OSIS tahu nggak. Ya udah, yuk pulang. Angkot depan gerbang biasanya langsung penuh kalau jam segini."

"Lu duluan aja, Ra. Gue mau ke perpus bentar, balikin buku paket Sejarah yang minjemnya udah lewat seminggu," ucap Kinanti sambil menepuk tas ranselnya yang terasa berat.

Lihat selengkapnya