Anatomi Kanvas Mati

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #4

Bab 2: Batas Kanvas

Aroma masakan sup ayam dan minyak jati menyeruak ketika pintu kamar Kinanti diketuk tiga kali. Ketukan yang ritmis, tanpa emosi, dan sangat khas. Itu adalah ketukan tangan Ibu.

Kinanti lekas menurunkan lengan seragam abu-abunya yang masih lembap oleh rembesan darah. Rasa kebas di kulitnya menyisakan sensasi dingin yang ganjil, seolah-olah separuh lengan kirinya adalah daging pinjaman yang tidak punya aliran darah.

"Kin? Kamu sudah pulang dari tadi, kan? Kok nggak turun?" suara Ibu terdengar flat dari balik kayu jati yang tebal.

Kinanti memoles senyumnya sekali lagi di depan cermin kecil meja belajar. "Iya, Bu. Ini baru beres ganti baju," jawabnya dengan partikel penegas yang terdengar ceria. Ia membuka kunci pintu, memamerkan wajah remaja tujuh belas tahun yang tampak sangat patuh.

Ibu berdiri di sana dengan daster batiknya yang rapi. Tatapannya tidak tertuju pada mata Kinanti, melainkan menyapu seisi kamar, memeriksa apakah ada helai pakaian yang berantakan atau buku yang tidak pada tempatnya. 

Ketakutan terbesar Kinanti akan penolakan selalu bersumber dari tatapan dingin ini—tatapan yang selalu menuntut kesempurnaan tanpa pernah sudi memahami prosesnya.

"Gimana pengumuman panitia festival di sekolah?" Ibu bertanya sembari merapikan letak bantal di kasur Kinanti yang sebenarnya sudah lurus. "Tadi Ibu sempat telepon Tante Lastri, katanya anak nya si Amelia itu yang kepilih jadi ketua, ya?"

Dada Kinanti mendadak menyempit. Udara di sekitarnya seperti diisap habis. "Ah... iya, Bu. Amelia yang kepilih. Dia emang lebih bagus relasinya buat sponsor."

Ibu menghentikan tangannya di atas bantal. Beliau mengembuskan napas pendek, tipe helaan napas yang selalu membuat Kinanti merasa dirinya adalah sebuah produk gagal yang cacat produksi.

"Kamu tuh ya, Kin. Selalu aja kalah cepat," ucap Ibu, nadanya tidak tinggi, namun setiap katanya terasa seperti jarum yang menusuk tepat di pusat rasa percaya dirinya. "Padahal Papa sudah belikan kamu laptop baru bulan lalu biar proposal kamu bagus. Kalau begini kan malu sama Tante Lastri. Amel itu padahal sibuk les balet, tapi ia masih bisa pegang acara besar seperti itu."

Lihat selengkapnya