Anatomi Kanvas Mati

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #5

Bab 3: Suara di Balik Dinding

Langkah kaki Kinanti terasa sangat berat saat melewati ruang tengah. Rumah orang tuanya sesunyi peti mati, hanya diisi oleh detak jam dinding kayu jati yang berbunyi tek-tok-tek-tok secara monoton.

Setelah penolakan halus dari Rara di sekolah dan sindiran dingin dari Ibu kemarin malam, isi kepala Kinanti menjadi sangat bising. Ada kekosongan yang begitu pekat merayap di dalam dadanya, menyebar ke ujung jarinya, membuat seluruh tubuhnya kembali mati rasa.

Ia masuk ke kamar, melempar tasnya ke kasur, dan langsung menggulung lengan seragam kirinya. Dua bekas sayatan silet dari kemarin sore telah mengering, meninggalkan dua garis merah tua yang kaku. Kinanti mengambil silet peraknya lagi. Dengan sisa-sisa harapan yang putus asa, ia menekan besi itu kuat-kuat ke kulit pahanya yang putih di balik rok abu-abu. Ia menyeretnya dengan kasar.

Kulitnya terbelah. Darah nya merembes keluar.

Namun, tetap tidak ada sensasi apa pun. Rasa perih yang membakar yang sangat ia rindukan itu sama sekali tidak kunjung datang. Kulit pahanya terasa tebal dan mati seperti karet ban. Silet itu benar-benar sudah tidak berguna.

"Nggak mempan... kenapa nggak mempan, ya?" bisiknya, suaranya mulai bergetar karena frustrasi.

Sarafnya butuh kejutan yang lebih masif. Sesuatu yang tumpul, tajam, dan menghantam langsung ke dalam struktur otot atau tulang. Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di kepalanya. Di ujung belakang lantai satu, di bawah tangga yang gelap, ada sebuah gudang tua tempat Ayah menyimpan peralatan pertukangan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah disentuh.

Kinanti merapikan kembali roknya, mengelap noda darah di pahanya dengan selembar tisu, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat pelan. Ia menuruni anak tangga satu demi satu tanpa menimbulkan suara, memanfaatkan keheningan rumah selagi Ibu belum pulang dari jadwal arisannya.

Pintu gudang itu terletak di pojok paling gelap. Kayunya sudah kusam dan pegangan besinya terasa dingin serta berdebu saat digenggam. Ketika Kinanti memutar kenopnya, bunyi krieeek yang panjang memecah kesunyian koridor bawah. Bau udara mampat, debu tebal, kayu lembap, dan karat besi langsung menyergap penciumannya.

Lihat selengkapnya