Makan malam hari itu berjalan seperti biasa: penuh kepura-puraan yang sunyi. Ayah sibuk memeriksa surel dari ponselnya di sebelah piring, sementara Ibu tidak berhenti mengomentari betapa rapinya hiasan taman di rumah Tante Lastri.
Kinanti duduk di antara mereka, menyuap nasi gorengnya, mengunyah tanpa benar-benar mengecap rasa. Di balik kain rok abu-abu yang ia kenakan, ujung paku beton di dalam sakunya sesekali menusuk permukaan paha atasnya setiap kali ia menggeser posisi duduk. Tusukan kecil itu terasa nyata. Dingin, tumpul, dan menjanjikan.
Begitu jarum jam menyentuh angka sembilan, Kinanti bergegas pamit ke kamar dengan alasan harus menyelesaikan tugas biologi.
"Kunci pintunya, Kin. Jangan main ponsel terus sampai malam," ujar Ibu tanpa menoleh dari layar televisi.
"Iya, Bu," jawab Kinanti lembut.
Begitu daun pintu jati kamarnya merapat, Kinanti langsung memutar kunci dua kali. Klek. Klek. Bunyi logam yang saling mengunci itu selalu terdengar seperti sebuah plester yang membungkam kebisingan dunia luar. Kamar ini kini sepenuhnya menjadi miliknya. Sebuah ruang sterilisasi tempat ia bebas membedah kewarasannya sendiri.
Kinanti berjalan menuju tempat tidur. Ia melepaskan tas ranselnya, lalu duduk bersimpuh di atas lantai yang dingin. Jari-jemari tangan kanannya merayap ke dalam saku rok, meraba permukaan logam yang kasar hingga menemukan paku beton berukuran lima sentimeter yang tadi ia ambil dari gudang.
Ia menarik paku itu keluar. Di bawah cahaya lampu meja belajar yang kuning redup, bercak karat di sepanjang batang paku itu tampak seperti guratan darah kering yang purba. Ujungnya menghitam, tidak serapi silet, namun memiliki ketajaman yang padat dan kokoh.
Kinanti menyelonjorkan kedua kakinya di atas lantai. Ia menyibak rok abu-abunya ke atas, mengekspos paha atas bagian kiri yang masih bersih dari parut luka. Kulit di sana putih, halus, dan tampak sangat kontras dengan lengan kirinya yang sudah hancur penuh oleh jaringan parut horizontal. Paha ini adalah sebidang kanvas baru yang masih suci.
Ia mendekatkan paku beton itu ke kulitnya. Sisi batang paku yang berkarat diletakkan horizontal di atas permukaan paha.