Paku beton itu memang sudah dicabut sebelum subuh menjelang. Kinanti harus menggunakan tenaga ekstra untuk menariknya keluar dari jalinan otot paha yang mulai mengencang menahan logam tersebut.
Saat besi berkarat itu lepas, bunyi plop yang basah disertai semburan darah kental sempat menodai lantai tegel kamarnya. Namun, lubang menganga sedalam satu sentimeter yang ia tinggalkan di paha atas kiri Kinanti tidak bisa menutup dengan instan.Â
Lubang itu tetap ada di sana, berdenyut konstan, tersembunyi dengan rapat di balik kain rok abu-abu seragamnya setelah iya menyiramkan kadar alkohol 70% ke luka nya tersebut..
Pagi ini, melangkah melewati gerbang sekolah terasa seperti sebuah ujian ketahanan fisik yang brutal.
Setiap kali kaki kirinya maju ke depan, otot paha atasnya akan berkontraksi secara paksa. Serat daging yang robek di sekitar lubang luka kembali meregang, memicu rasa ngilu yang pekat dan menusuk hingga ke tulang panggul. Kinanti tidak bisa menyembunyikannya sepenuhnya.
Tubuhnya secara otonom memindahkan tumpuan berat badan ke kaki kanan, membuat jalannya sedikit pincang—setiap dua langkah tegak, langkah ketiganya akan menyeret pendek.
"Kinanti! Lu kenapa? Kaki lu sakit?"
Suara cempreng Rara menyergap dari arah belakang saat Kinanti baru saja mencapai undakan koridor kelas dua belas.
Kinanti menghentikan langkah. Denyut linu di pahanya mendadak memuncak akibat berhenti mendadak. Udara yang ia hirup terasa dingin dan kesat di tenggorokan, tetapi wajahnya dengan cepat menyusun topeng kenyamanan yang biasa. Ia berbalik lambat, menyampirkan senyum tipis yang tampak begitu alami.
"Eh, Rara. Pagi," Kinanti menyapanya dengan nada santai. "Nggak apa-apa kok. Kemarin malam pas mau ke kamar mandi, kaki gue nggak sengaja kepentok sudut dipan tempat tidur besi yang di gudang bawah. Lumayan memar sih, makanya ini agak linu kalau dibuat jalan."