Toleransi tubuh manusia terhadap penderitaan fisik adalah hal yang paling cepat beradaptasi. Bagi Kinanti, lubang bekas paku beton di pahanya yang semula terasa seperti letupan gunung api, dalam waktu tiga hari saja telah turun kasta menjadi sekadar denyut hangat yang membosankan.
Saraf-saraf di paha atas kirinya telah terbiasa dengan tekanan tumpul itu. Kebutuhan jiwanya akan kejutan rasa sakit kembali menuntut upah yang lebih tinggi, dan sialnya, rasa lapar itu tidak bisa menunggu hingga ia tiba di rumah orang tuanya yang sepi.
Jam istirahat kedua hari itu terasa sangat menyiksa. Di kantin, Kinanti terpaksa duduk menyaksikan Rara yang tertawa lepas bersama kelompok Amelia. Mereka sedang merencanakan pesanan kaus panitia festival seni.
"Kin, ukuran baju lu M kan, ya?" tanya Rara santai, tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel Amelia. "Amel mau sekalian pesenin buat lu. Biar seragam, meskipun lu cuma bantu di balik layar nanti."
Kalimat meskipun lu cuma bantu di balik layar menggantung di udara seperti sebuah sapuan kuas hitam yang pekat. Kalimat itu langsung memicu rongga dada Kinanti untuk mengosongkan diri.
Rasa tidak nyata itu datang lagi. Di antara riuhnya kantin sekolah, Kinanti merasa dirinya perlahan menguap menjadi udara kosong yang tidak kasatmata. Mereka mengasihaninya. Mereka mendepaknya, lalu memberinya kaus panitia sebagai upah hiburan agar ia tidak menangis.
"Eh, ukuran M kok, Ra. Makasih ya, Mel," Kinanti menjawab dengan lancar. Senyumnya mengembang sempurna, simetris dan manis. "Gue ke toilet bentar, ya. Tiba-tiba mules nih."
Ia berdiri, menahan bobot tubuhnya dengan kaki kanan agar pincangnya tidak terlalu ketara, lalu berjalan cepat meninggalkan area kantin.
Toilet di blok belakang sekolah dekat lab biologi adalah tempat paling sunyi. Area itu jarang dilewati murid karena gosip lama tentang langit-langitnya yang bocor dan suasananya yang lembap. Kinanti mendorong pintu kayu toilet paling ujung, masuk ke dalam, dan mengunci slot besinya dari dalam. Cklek.
Bau pembersih lantai rasa pinus yang murah dan uap air yang pengap langsung menyambutnya. Kinanti tidak membuang waktu. Ia bersandar pada dinding keramik toilet yang dingin dan basah. Tangan kanannya merayap ke dalam saku rok abu-abunya. Di sana, di balik lipatan kain, ia tidak lagi membawa satu paku. Ia membawa tiga paku beton berkarat sekaligus yang ia bungkus dengan selembar tisu.
Ia menyibak roknya ke atas. Luka lama di paha kirinya tampak seperti lubang kawah kecil yang dikelilingi lingkaran kulit mati berwarna keunguan.
Kinanti mengambil paku baru yang ujungnya paling runcing. Tanpa melakukan gesekan pemanasan seperti beberapa hari lalu, ia langsung menempelkan ujung besi itu di area kulit baru, sekitar tiga sentimeter di sebelah kanan lubang lama.
Ia menekan kepala paku itu menggunakan pangkal telapak tangan kanannya. Ia mendorongnya kuat-kuat, melesakkan besi berkarat itu menembus kulit ari yang kenyal.
Ples.