Anatomi Kanvas Mati

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #9

Bab 7: Penolakan Beruntun

Ada jarak yang tidak kasat mata, namun terasa sangat tebal, mendadak membentang di antara meja Kinanti dan Rara sejak insiden di toilet.

Kinanti bisa merasakannya melalui perubahan-perubahan mikro yang terjadi di kelas dua belas. Radar Gangguan Kepribadian Ambangnya yang hiper-sensitif menangkap setiap gerak-gerik Rara yang mulai bergeser menjauh: bagaimana Rara kini lebih sering memutar posisi duduknya ke baris depan untuk mengobrol dengan Amelia, atau bagaimana Rara selalu menolak halus setiap kali Kinanti mengajaknya pulang bersama dengan alasan ada rapat panitia festival.

Puncaknya terjadi pada hari Jumat sore, ketika hujan deras mengguyur atap seng selasar sekolah.

Kinanti sedang merapikan kuku-kuku paketnya ke dalam tas ketika ia melihat Rara dan Amelia sedang berdiri di dekat loker kelas, berbisik-bisik sembari melirik ke arahnya. Ketika Kinanti berjalan mendekat, dengan kaki kiri yang sengaja ia paksakan melangkah tegak lurus meski jalinan serat otot di pahanya terasa seperti disiram cuka, obrolan itu langsung terputus.

"Eh, Kin," Rara menyapa terlebih dahulu, namun senyumnya tidak lagi sampai ke mata. Ada ketakutan yang samar di balik kornea matanya. "Lu... mau langsung balik?"

"Iya, Ra. Kan hujan juga," Kinanti menjawab dengan nada renyah yang biasa, lengkap dengan binar palsu di matanya. "Kenapa? Lu mau bareng ke depan gerbang nyari angkot?"

Rara melirik Amelia sekilas sebelum menggeleng pelan. "Duh, sori banget, Kin. Gue... gue sore ini mau ikut Amel ke rumahnya. Kita mau fiksasi konsep panggung sama anak-anak dekorasi yang lain. Lu... lu langsung balik aja, nggak apa-apa, kan?"

.Isi dada Kinanti seketika melorot, menyisakan ruang kosong yang luar biasa dingin. Rasa takut ditinggalkan (fear of abandonment) yang menjadi momok paling mengerikan dalam hidupnya kembali memicu kepanikan massal di dalam kepalanya. Mereka mendepakmu lagi, Kin. Rara sudah bosan denganmu. Kamu itu aneh, makanya dia lebih milih Amelia.

"Oh, gitu. Ya udah, santai aja kok, Ra," Kinanti tersenyum manis, mengangguk kecil seolah-olah penolakan itu tidak berbobot sama sekali. "Sukses ya rapatnya. Gue balik duluan."

Saat ia membalikkan badan dan melangkah keluar kelas, ia sempat mendengar bisikan lirih Amelia dari balik punggungnya: "Beneran kan, Ra? Cara jalannya aneh banget sekarang. Terus kemarin pas di toilet, gue juga merinding pas lu cerita dia ketawa sendiri..."

Kinanti tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya menyusuri koridor yang sepi, membiarkan tubuhnya pincang sepenuhnya tanpa perlu berpura-pura lagi. Hujan yang turun deras di luar seolah-olah menjadi musik latar yang merayakan pengusiran dirinya dari dunia luar. Sahabat terbaiknya telah memilih orang lain. Kanvas di pahanya yang penuh lubang bekas paku kini terasa sama sekali tidak berharga. Rasa kebas total kembali melanda dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Ia merasa seperti sepotong mayat berjalan yang tidak memiliki bobot eksistensi. 

Rumah orang tuanya menyambut Kinanti dengan atmosfer yang tidak kalah dingin. Ketika ia membuka pintu depan, ia langsung disuguhi oleh pemandangan Ayah dan Ibu yang sedang duduk di ruang makan, dikelilingi oleh lembaran-lembaran kertas brosur universitas swasta ternama.

Lihat selengkapnya