Pukul dua dini hari, rumah orang tua Kinanti mencapai titik paling dingin. Suara dengkur halus Ayah sesekali terdengar dari balik celah pintu kamar utama di ujung lorong, berpadu dengan desau lambat pendingin ruangan yang menyemburkan hawa beku.
Kinanti berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri. Kain rok abu-abunya sudah berganti dengan celana kain longgar berwarna hitam, menyembunyikan dua kawah luka baru di pahanya yang kini sudah berhenti berdenyut. Kebas itu kembali, merayap seperti semen basah yang mengering di sepanjang jalur sarafnya. Ia tidak merasakan apa-apa. Kosong.
Dengan kaki telanjang, ia melangkah menuruni anak tangga. Setiap pijakan kakinya pada kayu anak tangga dilakukan dengan presisi seorang pencuri; ia tahu bagian mana dari papan kayu ini yang akan berdecit jika ditekan terlalu keras. Di rumah ini, ia telah belajar menghilang bahkan sebelum ia benar-benar berniat melakukannya.
Koridor lantai bawah tampak seperti lorong labirin yang mati. Cahaya bulan yang menembus jendela kaca buru-buru memproyeksikan bayangan panjang furnitur jati yang kaku ke atas lantai marmer. Kinanti berjalan lurus menuju pojok paling belakang, di bawah ceruk tangga tempat pintu gudang berada.
Kenop besi itu masih terasa berdebu. Saat ia memutarnya lambat-lambat, gesekan gerigi di dalam silinder kunci mengeluarkan bunyi klek yang lirih. Kinanti menahan napas sesaat, mematung di tempatnya selama lima detik, memastikan tidak ada pergerakan dari lantai atas. Setelah yakin rumah tetap senyap, ia menyelinap masuk dan menutup pintu kayu tebal itu di belakang punggungnya.
Gudang itu tidak berubah. Di dalam kegelapan yang pekat, bau apek koran lama, minyak pelumas, dan besi berkarat terasa jauh lebih tajam daripada sore hari. Kinanti tidak menyalakan lampu gantung di langit-langit; sakelarnya terlalu berisik dan sinarnya yang kuning terang bisa bocor lewat celah bawah pintu. Sebagai gantinya, ia menyalakan lampu senter kecil dari ponselnya, mengarahkan sorot cahayanya yang putih dingin ke atas meja kerja tua Ayah.
Lingkaran cahaya senter itu langsung menangkap kotak perkakas besi berwarna hijau tua yang mengelupas.
Kinanti melangkah mendekat. Ia mengangkat pengait besinya dengan hati-hati agar logam itu tidak berdentang. Di dalam kotak, di antara obeng berkarat dan gergaji besi kecil yang berdebu, sebilah tang kombinasi itu terbaring diam.