Gerimis sisa semalam menyisakan bau tanah basah yang masuk melalui ventilasi kamar. Di atas lantai tegel, sepuluh ujung jari tangan Kinanti bergerak ritmis, mengetuk-ngetuk permukaan dingin tang besi yang tergeletak di antara gulungan perban.
Jam dinding di luar kamar baru saja berdentang empat kali. Rumah orang tuanya masih berada di puncak kesunyian subuh.
Kinanti meluruskan kedua kakinya, duduk bersandar pada kaki tempat tidur. Ia meraih botol alkohol, membuka tutupnya dengan satu tangan, lalu menuangkan cairan jernih itu langsung ke atas permukaan kuku jari manis tangan kirinya. Rasa dingin yang menggigit segera menyebar, membasahi sela-sela kulit ari yang melingkari pinggiran tanduk keras tersebut.
Ia mengambil tang kombinasi dari lantai. Bobot baja itu terasa pas di genggamannya.
Kedua pasang matanya menatap lurus ke arah jari manisnya sendiri. Di bawah temaram lampu meja yang kuning, kuku itu tampak bersih, memantulkan sedikit cahaya redup dari sisa cairan alkohol yang belum menguap. Kinanti membuka bilah tang. Gerigi besi di ujung penjepitnya menganga lambat, mengeluarkan aroma minyak mesin yang samar.
Ia menyunggi alat itu mendekat. Ujung tang kombinasi tersebut mulai menyelip masuk, menjepit tepat di batas tipis tempat kuku dan daging jari manisnya bertemu. Besi dingin itu menekan permukaan tanduk kuku bagian atas dan bantalan daging bagian bawah secara bersamaan.
Kinanti menarik napas dalam-dalam melalui hidung. Lengannya menegang, mengunci posisi engsel tang agar cengkeraman gerigi bajanya tidak bergeser satu milimeter pun.