Tidak semua mimpi berakhir sesuai rencana.
Kalimat itu baru benar-benar dipahami Zura beberapa minggu setelah pengumuman yang mengubah segalanya. Ia memang gagal masuk kampus impian. Namun hidup rupanya tidak memberinya waktu terlalu lama untuk larut dalam kesedihan.
Jalur seleksi lain membawanya ke sebuah universitas negeri yang tidak pernah masuk daftar utamanya. Bukan Fakultas Kedokteran seperti yang selama ini diimpikan, melainkan Program Studi Biologi.
"Selamat, ya!"
"Biologi juga keren, kok."
"Kamu pasti bisa."
Ucapan-ucapan itu terus berdatangan. Zura selalu membalas dengan senyum dan ucapan terima kasih. Meski begitu, ada bagian kecil dalam dirinya yang masih belum sepenuhnya menerima kenyataan. Ia berhasil masuk universitas. Hanya saja bukan universitas yang selama ini ia bayangkan.
Namun ia tetap bersyukur dikelilingi keluarga yang selalu mendukungnya. Ayah yang pagi-pagi buta sudah siap mengantarnya ke tempat ujian. Mama yang hari itu membawakan bekal makanan favoritnya. Abang dan kakak iparnya yang selalu memberi semangat. Serta si kecil Mylo yang seakan mengerti kondisinya dengan selalu memberi pelukan hangat.
“Nanti di biologi kamu akan belajar banyak hal. Bahkan objeknya lebih banyak dari kedokteran. Kamu akan belajar tentang hewan, tumbuhan, dan makhluk paling kecil seperti bakteri,” ucap Dean memeluk erat adiknya.
Zura hanya mengangguk. Dia harus segera bersiap untuk merantau ke kota lain. Sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal sekarang. Kira-kira butuh waktu dua jam perjalanan, jika tidak ada kemacetan. Karena khawatir kelelahan di jalan, Zura memutuskan untuk mencari kost di sekitar kampus.
Saat tiba hari keberangkatan, seluruh keluarga ikut mengantar. Bahkan ketika waktunya berpisah, ada rasa berat di hati ayah dan ibu melepas putri bungsunya di kota lain. Tapi Zura berjanji akan selalu mengabari mereka. Jika kegiatan tidak padat, dia ingin pulang minimal dua minggu sekali.
___
Hari-hari pertamanya sebagai mahasiswa berjalan lebih sibuk dari yang diperkirakan. Praktikum, tugas, laporan, presentasi dan masih banyak lagi. Zura bahkan tidak menyangka sebagian besar waktunya akan dihabiskan di laboratorium.
Pagi itu ia sedang mengamati preparat menggunakan mikroskop ketika salah satu temannya mengeluh.
"Aku menyesal masuk Biologi."
Zura terkekeh pelan.