Anatomi Sebuah Perasaan

Blue_rose
Chapter #3

Chapter 3: Diantara Laporan dan Rindu

Menjelang akhir semester pertama. Kampus mulai terasa berbeda. Semua mahasiswa sibuk. Tugas, laporan praktikum, kuis, dan persiapan UAS. Serta tidak lupa ujian akhir praktikum. Hampir setiap hari Zura pulang sore. Bahkan kadang harus begadang untuk menyelesaikan laporan.

Padatnya kegiatan perkuliahan membuat Zura jadi jarang membuka media sosial, apalagi mengamati akun Orion. Dia jadi lebih banyak membuka grup kelas yang berisi kesulitan mengerjakan tugas dan perdebatan pembagian kelompok tugas. Grup praktikum dipenuhi dokumentasi berupa foto dan video di laboratorium. Serta persiapan bahan praktikum yang harus dicari sendiri oleh praktikan.

Satu semester saja belum usai. Namun Zura cukup kewalahan mengatur waktu. Sekedar untuk tidur dan makan. Beruntungnya setiap hari orang tuanya selalu menghubungi. Meskipun hanya untuk bertanya dia sudah makan atau belum. Terkadang kakaknya juga menyempatkan waktu menghubungi Zura ditengah kesibukannya.

Hari ini Zura akan mencari bahan praktikum bersama temannya. Untungnya bahan ini cukup mudah ditemukan. Meskipun harus sampai berkunjung ke fakultas lain.

“Kita butuh berapa banyak, ya?” tanya teman Zura bersiap memotong daun tanaman itu.

“Sepertinya beberapa helai daun saja,” jawab Zura memotong beberapa helai daun Rhoeo discolor.

Setelah selesai mengambil beberapa helai daun, mereka segera bergegeas menuju laboratorium untuk menyiapkan alat yang lain.

“Daunnya kalian sayat setipis mungkin dengan silet.” Asisten praktikum memberikan instruksi.

“Lalu sayatan daun diletakkan gelas objek, ditambahkan satu tetes aquades dan tutup dengan kaca penutup. Setelah itu kalian bisa mulai mengamati struktur selnya,” sambungnya.

Zura cukup kesulitan menyayat daun itu agar jadi setipis mungkin. Beberapa kali dia menunjukkan hasil sayatan daunnya pada asisten praktikum. Namun masih dianggap terlalu tebal. Dia menghela napas panjang. Mencoba lagi dan lagi. Sampai akhirnya dia bisa menyayat daun itu dengan sangat tipis.

Satu kesulitan berhasil ditangani, muncul kesulitan baru. Saat akan mengambil foto preparat daun di mikroskop, beberapa kali hasil fotonya tidak terlihat jelas.

“Kenapa objeknya susah sekali fokus,” gerutunya.

“Sabar dan tetap tenang, Zura.” Teman sekelompoknya berusaha menyemangati.

Satu persatu foto telah diambil. Tapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan. Zura mencoba nahan napas. Teman-temannya ikut menahan napas padahal mereka hanya menonton.

“Huft, akhirnya... setelah sekian banyak percobaan,” ucapnya mengusap peluh di dahi.

___

Hari mulai petang. Meskipun badannya sudah lelah. Namun, Zura tetap memilih menempuh perjalanan dari kampus menuju kost dengan berjalan kaki. Sesampainya di kost dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Butuh beberapa menit baginya untuk bangkit kembali dan membersihkan diri. Dia terlihat jadi lebih segar setelah mandi. Tapi tetap saja, tubuhnya masih terasa lelah. Zura kembali meluruskan badannya di ranjang. Saat sedang asyik menggulir layar ponselnya, panggilan video masuk. Segera telunjuknya menggeser layar untuk menerima panggilan itu.

“Amita!” suara ceria itu langsung menyambutnya.

Lihat selengkapnya