Anatomi Sebuah Perasaan

Blue_rose
Chapter #4

Chapter 4: Belajar Bertumbuh di Tempat yang Salah

Semester dua dimulai. Anehnya, kampus yang dulu terasa asing mulai sedikit lebih akrab. Mata kuliah mulai terasa lebih spesifik. Meskipun masih terbilang dasar. Zura harus bersiap menghadapi empat praktikum di semester ini. Setidaknya dia menemukan ketertarikan pada hal baru di semester ini. Dosen favoritnya dan mata kuliah yang dia senangi.

“Aku dengar dari kakak tingkat, beliau galak dan pelit kalau memberi nilai.”

“Katanya beliau adalah dosen yang paling sering tidak meluluskan mahasiswa di mata kuliah yang diampunya.”

Zura mendengar percakapan teman-temannya di kelas tentang dosen tersebut. Tidak berselang lama, seorang laki-laki bermuka tegas masuk ke kelas. Jika di lihat sepertinya usianya belum mencapai empat puluh tahun.

“Selamat pagi,” ucap beliau membuka kelas hari ini.

“Selamat pagi, Pak.” Seisi kelas kompak menjawab.

Kelas hari itu diisi perkenalan, sistem penilaian, materi singkat, dan gambaran praktikum yang akan dilaksanakan. Mendengar sekilas gambaran materi dan praktikum, entah kenapa Zura merasa tertarik dengan mata kuliah ini. Meskipun rasanya semester ini akan lebih berat dari sebelumnya.

___

Dan benar saja. Dua minggu kemudian praktikum semester ini di mulai. Zura sibuk mencari bahan untuk praktikum. Bahan-bahan yang dibutuhkan meliputi tumbuhan dan hewan. Untuk tumbuhan cukup mudah di dapat dari sekitar jalan. Tapi untuk hewan, mereka cukup kesulitan menangkap sendiri. Jadi biasanya mereka membeli di pasar hewan.

Hari ini praktikum mata kuliah Struktur dan Perkembangan Hewan. Jujur saja, Zura tampak bersemangat. Setelah mempelajari materinya yang membahas anatomi dan morfologi hewan, terutama manusia. Seakan seperti materi kedokteran dasar, apalagi praktikumnya yang cukup ekstrim.

“Ikannya di bius pakai kloroform ya,” ucap asisten praktikum memberi instruksi.

Masing-masing kelompok mulai mengikuti arahan untuk membius ikan yang jadi objek pengamatan hari ini. Mereka memasukkan ikan dalam wadah tanpa air. Kemudian memasukkan kapas yang sudah diberi klorofom, lalu menutup wadah tersebut. Menunggu beberapa saat sampai ikan itu hilang kesadaran tapi tidak kehilangan nyawanya.

“Setelah ikannya terbius, kalian letakkan di papan bedah. Kita amati dulu morfologi luarnya sebelum dibedah.”

Zura terlihat sudah siap mencatat penjelasan dari asisten praktikum.

“Umumnya, ikan punya lima sirip.”

“Ada sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip dubur, dan sirip ekor,” jelas asisten praktikum sambil menunjukkan bagian-bagiannya.

Satu persatu morfologi luar pada tubuh ikan sudah disebutkan. Zura bahkan terlihat lihai mencatat setiap detail penjelasan.

“Selanjutnya kita akan amati anatomi di dalam tubuh ikannya.”

“Zura, coba kamu bedah ikannya,” tunjuk asisten praktikum.

Lihat selengkapnya