Beberapa minggu terakhir, Zura merasa hidupnya berjalan cukup baik. Kuliah mulai terasa lebih ringan, praktikum tidak lagi membuatnya panik, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya menyimpan sesuatu yang nyaris menyerupai harapan.
Sudah beberapa minggu Orion terus memposting ulang kutipan galau. Tidak ada lagi foto bersama kekasihnya. Tidak ada ucapan manis seperti biasanya. Zura mulai yakin hubungan mereka sedang bermasalah. Meski berusaha menahan diri, harapan kecil itu tumbuh lagi.
“Sepertinya mereka sudah putus,” batin Zura.
“Astaga.. apa yang aku pikirkan,” ucapnya sambil menepuk dahi.
Dia sadar tidak seharusnya berpikir begitu. Namun hati sering kali lebih keras kepala daripada logika.
___
Malam harinya, Zura tidak bisa menahan diri untuk mencari tahu kondisi Orion yang sebenarnya. Setelah menyelesaikan tugas dan laporan praktikum, dia merebahkan tubuhnya sambil menggulir layar ponsel. Kali ini, dia tidak singgah di akun Orion. Tapi Zura mengunjungi akun kekasih Orion. Untung saja akunnya tidak terkunci. Karena sebelumnya, Zura sempat ingin berkunjung ke akun perempuan itu tapi terkunci.
Awalnya Zura hanya ingin memastikan. Dia melihat-lihat foto-foto postingan lama mereka. Sayangnya, itu tidak menjawab rasa penasarannya. Sampai tiba-tiba postingan baru muncul. Zura langsung bangkit dengan posisi duduk dan mata terbuka lebar melihat unggahan baru itu.
Ada foto kue, lilin, dan senyum bahagia. Tentu saja ada wajah yang Zura kenali di foto itu. Lihatlah betapa bahagianya mereka. Sejenak Zura merasa dadanya sesak. Harapan kecil yang sempat tumbuh itu, kini runtuh kembali.
“Harusnya aku sadar, mereka tidak mungkin putus semudah itu,” ucapnya melempar ponsel ke sisi lain ranjang. Dia menenggelamkan wajahnya ke tumpukan bantal.
Dari ucapan dan foto-foto itu terlihat jelas. Mereka tidak putus. Mereka hanya sempat renggang karena kesibukan dan jarak. Hubungan mereka tetap bertahan. Apalagi Orion sampai rela melintasi pulau hanya untuk merayakan ulang tahun kekasihnya. Zura mengambil kembali ponselnya, melihat unggahan baru yang lain.
“Terima kasih sudah datang. Terima kasih selalu mengusahakan banyak hal untukku.”
Kalimat itu terus berputar di pikiran Zura. Dia cukup lama menatap layar ponsel. Tidak marah. Tidak menangis juga. Hanya hening dan dada yang mulai terasa sesak. Karena kenyataan sering kali lebih menyakitkan saat harapan sudah terlanjur tumbuh. Ia merasa bodoh karena sempat berharap. Padahal sejak awal Orion memang bukan miliknya.
“Aku bodoh sekali, berpikir mereka putus hanya karena postingan ulang Orion. Padahal mereka sekarang masih bahagia bersama.” Zura tidak henti-hentinya menyalahkan diri.
Dia menghela napas panjang. Semuanya serba tidak terduga. Harapannya yang sempat tumbuh kini hancur kembali. “Bagaimana rasanya dicintai Orion? Kamu pasti sangat beruntung,” ucap Zura menatap dalam kekasih Orion.
Zura tidak bisa membohongi hatinya yang iri melihat perempuan itu dicintai dan diusahakan segalanya oleh Orion. Ia memperbesar salah satu foto perempuan itu. Cantik. Ramah. Tidak heran Orion memilihnya. Jika berada di posisi Orion, mungkin Zura juga akan memilihnya. Pikiran itu justru membuat dadanya semakin sesak.
“Kamu sangat beruntung. Bisa selalu tahu kabar Orion, makanan favoritnya, segala hal yang dia suka. Bahkan mendengar suaranya.” Zura tersenyum pahit.