Kamu tahu, Esok?
Jam dindingku mati bukan karena baterai. Aku sudah menggantinya tiga kali, dan setiap kali jarumnya kembali ke 03:14 dia berhenti di sana, seperti ada magnet yang menariknya kembali.
Aku mulai percaya bahwa waktu di kamar ini memang memilih untuk tinggal di pukul 03:14. Waktu di mana semua orang tertidur, dan hanya orang-orang yang penuh penyesalan yang masih terjaga.
Waktu di mana Mira pergi.
Waktu di mana Ibu menghela napas di telepon.
Waktu di mana aku memutuskan untuk menunda menggambar karena aku bilang aku belum cukup baik, aku belum cukup siap.
Pukul 03:14 adalah jam yang paling sunyi.
Tidak ada azan.
Tidak ada ayam berkokok.
Tidak ada anak sekolah berteriak.
Hanya suara kulkas yang berdengung dan detak jantungku sendiri yang terdengar terlalu keras.
Di jam seperti itu, pikiran tidak bisa berbohong. Ia menunjukkan semua yang kusembunyikan di siang hari.
Aku ingat malam itu: aku duduk di lantai, punggungku bersandar ke tembok yang dingin, menatap kertas gambar yang kosong selama empat jam tanpa menggoreskan apa-apa.