Andai Hari Esok tak Pernah Ada

Raihan Langit
Chapter #3

Surat III :

Pagi ini aku menyeduh kopi seperti biasa.

Dua cangkir.

Satu hitam tanpa gula, untukku yang sudah terbiasa dengan pahit. Satu lagi dengan sedikit susu dan gula, untukmu yang kubayangkan tidak tahan pahit.

Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan gambaran tentang selera kopimu, Esok.

Mungkin dari Mira yang dulu selalu minta gula lebih banyak. Mungkin dari Ibu yang selalu bilang kopi harus manis supaya hidup tidak terlalu pahit. Mungkin dari diriku sendiri yang sebenarnya ingin kopi manis tapi malu untuk mengakuinya.

Aku meletakkan cangkirmu di seberang meja, menghadap jendela, seolah-olah kau akan datang dan duduk di sana lalu mengeluh tentang macet dan tentang hidup yang terlalu cepat.

Kopi kedua itu selalu dingin. Aku membiarkannya dingin dengan sengaja, mungkin.

Karena jika ia tetap hangat, itu berarti aku harus segera meminumnya atau membuangnya, dan kedua pilihan itu mengharuskanku mengakui bahwa kau tidak akan datang.

Tapi jika ia dingin, ia bisa tetap di sana, menjadi bukti bahwa aku telah menunggu, bahwa aku telah melakukan ritual menunggu dengan benar.

Lihat selengkapnya