Halte di depan kos bernama Halte Melati, tapi tidak ada bunga melati di sekitarnya. Hanya ada papan nama yang catnya mengelupas dan bangku kayu yang lapuk dimakan hujan dan penantian.
Aku datang ke halte itu setiap hari, bukan untuk naik bus. Aku datang karena halte adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang jujur tentang fungsinya: ia adalah tempat menunggu.
Tidak ada yang datang ke halte untuk tinggal selamanya. Semua orang datang untuk menunggu sesuatu yang akan membawa mereka pergi. Dan aku, yang tidak tahu harus pergi kemana, menemukan kenyamanan di sana.
Pada pukul lima sore, halte itu selalu basah, seperti yang sudah kubilang. Aku pernah mencoba mengelapnya dengan tisu, tapi air itu muncul lagi, seperti keringat dari kayu yang lelah.
Mungkin kayunya memang menangis.
Mungkin halte itu juga menunggu seseorang yang tidak pernah datang, dan air itu adalah air matanya.
Aku duduk di ujung bangku, membuka buku catatan yang isinya hanya tanggal yang sama berulang-ulang: 16 Oktober, 16 Oktober, 16 Oktober.