Kamar kosku berukuran tiga kali empat meter. Secara teknis, itu bukan rumah. Tapi aku telah tinggal di sini selama empat tahun, dan secara perlahan ia menjadi perpanjangan dari kebuntuanku.
Dindingnya ditempel poster yang sudah menguning, bekas mimpi-mimpi yang pernah kupasang dengan harapan: pameran seni di Yogyakarta, beasiswa ke luar negeri, novel pertama yang akan terbit.
Semua poster itu sekarang menjadi bukti bahwa aku pernah bermimpi, dan bahwa mimpi-mimpi itu sekarang hanya menjadi hiasan untuk kesepian.
Aku tidak pernah melepasnya, karena jika aku melepasnya, dinding akan terlihat terlalu kosong, dan kekosongan itu akan memaksaku untuk melihat diriku sendiri tanpa hiasan.
Di sudut kamar ada tumpukan buku yang tidak pernah kubaca sampai habis. Aku selalu membaca bab pertama dengan antusias, lalu berhenti di bab kedua karena aku merasa sudah mengerti intinya, atau karena aku takut buku itu akan berakhir dan aku harus mencari makna baru lagi.
Aku adalah pembaca bab pertama yang setia. Aku mencintai permulaan, karena permulaan tidak menuntut penyelesaian. Permulaan masih penuh janji.
Esok adalah permulaan abadi yang kuciptakan agar aku tidak perlu menghadapi tengah dan akhir. Tengah yang berantakan, akhir yang tidak pasti. Lebih mudah tinggal di bab pertama selamanya.
Ibu menelepon minggu lalu. Aku tidak mengangkatnya. Bukan karena aku tidak rindu, tapi karena aku tidak tahu harus berkata apa.