Mira pergi pada hari Selasa.
Aku ingat karena hari Selasa adalah hari di mana tukang bubur lewat depan kos dan Mira selalu membelikannya dua porsi, satu untukku yang tidak pernah habis karena aku selalu bilang nanti saja makannya, masih kenyang.
Mira pergi tanpa banyak drama, tanpa piring pecah, tanpa teriakan. Ia hanya mengepak koper kecilnya yang berwarna kuning, koper yang selalu ia bilang akan ia bawa keliling dunia, dan ia berkata: Rei, aku tidak bisa menunggu seseorang yang bahkan tidak menunggu dirinya sendiri. Kalimat itu menusuk dengan pelan, seperti jarum yang masuk tanpa rasa sakit tapi tiba-tiba kau sudah berdarah.
Mira mencintai hal-hal yang konkret: jadwal kereta yang tepat waktu, kopi yang diminum saat hangat, janji yang ditepati hari ini bukan esok.
Aku mencintai hal-hal yang abstrak: kemungkinan, nanti, jika saja, andaikan.
Kami seperti dua orang yang berbicara dalam bahasa yang berbeda di meja makan yang sama. Mira bertanya kapan kita akan pergi ke pameran itu? Aku menjawab nanti, kalau sudah tidak sibuk, kalau sudah esok, kalau sudah siap.
Mira bertanya kapan aku akan menunjukkan gambarku pada galeri? Aku menjawab nanti, kalau sudah lebih bagus, kalau sudah esok, kalau sudah berani. Nanti itu akhirnya menjadi dinding yang tidak bisa ditembus oleh Mira. Ia mengetuk, mengetuk, lelah, lalu pergi.