Sudah hampir satu jam mereka berada di pelataran parkir mal, tetapi belum banyak pengunjung yang datang. Lagipula, mal juga baru saja dibuka.
Setelah lama memperhatikan keluar masuknya pengunjung mal, tiba-tiba Arphan melihat seorang gadis baru saja turun dari sebuah taksi. Gadis itu menarik perhatiannya.
"Mbul, lihat itu. Cewek yang baru turun dari taksi yang pakai gaun pink. Oke banget, kan? Itu cewek pasti anak orang kaya."
"Mbul" adalah nama panggilan Gudel. Gudel sering dipanggil begitu oleh Arphan karena Gudel memang memiliki perawakan agak tambun alias gembul.
"Mana, Bro?" Mata Gudel jelalatan memandang ke depan. Jarot tidak mau ketinggalan, Jarot melotot ke arah yang ditunjuk oleh Arphan.
"Boleh juga itu. Kelihatannya memang anak tajir, sendirian lagi. Sudah, itu saja, Phan. Kita go ahead. Lo saja yang samperin. Gue sama Gudel tungguin di mobil. Kasih tahu kalau cewek itu mau diajak naik mobil kita, nanti kita ngumpet di belakang jok," sergah Jarot yang sudah tidak sabaran lagi.
"Lo berdua tungguin di sini. Entar gue kasih tahu kalau cewek itu mau ikut mobil kita," sahut Arphan.
Arphan yang bertindak sebagai eksekutor memberikan arahan kepada kedua temannya tentang apa yang harus dilakukan nanti. Setelah itu, Arphan keluar dari dalam mobil. Rencananya, Arphan akan membuntuti gadis incaran yang baru saja turun dari taksi dan hendak menuju ke dalam mal itu.
Andin, putri satu-satunya kesayangan keluarga Hermanto keluarga terpandang dan terkaya di antara pengusaha lainnya belum ada satu minggu berada di Jakarta untuk liburan kuliahnya. Andin tidak menyadari bahwa saat ini bahaya sedang mengintai!
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa gadis itu sedang diikuti oleh seorang pemuda. Bahkan sekuriti mal yang tampak kekar dan sangar, yang berjalan mondar-mandir di setiap lantai mal, tidak mencurigai adanya pemuda yang berniat jahat.
Saat ini, Arphan sedang berada di belakang gadis bergaun warna pink dan celana putih sebatas tumit tersebut. Dialah salah seorang pengunjung mal yang sedang diincarnya!
Andin berjalan santai sambil menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah tampak ceria. Sekarang Andin terlihat memasuki sebuah konter pakaian wanita dan sedang memilah-milah gaun di salah satu konter terbaik di mal ini.
Sepertinya Andin hanya melihat-lihat saja, tidak berniat untuk membeli. Rencana sebenarnya hanya ingin membeli sebuah novel buku bertemakan petualangan yang paling disukainya—sekaligus sarapan di sini.
Seorang pemuda yang berada tidak jauh di belakangnya sedang memutar otak. Bagaimana caranya membujuk gadis bergaun pink itu agar mau diantar pulang dengan mobilnya?
Dengan sabar, Arphan mengamati gerak-gerik gadis itu dari jarak tidak kurang dari lima puluh langkah di depannya. Tidak ada yang menaruh curiga, termasuk Andin sendiri!
Sebenarnya tidak ada hal penting yang mendesak Andin harus pergi ke mal sepagi ini. Kenapa tidak malam nanti saja pergi bersama Cassandra, sahabatnya, atau mengajak Anto untuk menemaninya?
Andin sendiri tidak tahu alasannya kenapa harus sepagi ini mengunjungi mal. Sepertinya Andin hanya iseng saja.
Kali ini Andin membuat kekeliruan besar. Andin pergi seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun, kecuali seekor "kucing garong" yang sedang lapar dan siap menerkam mangsanya di saat yang tepat. Arphan terus membuntutinya dari belakang tanpa disadari!
Arphan sang eksekutor sebenarnya berpenampilan tidak sangar-sangar amat. Tidak seperti kedua temannya, Jarot dan Gudel, yang memiliki bentuk wajah tidak bersahabat. Wajah Arphan sedikit lebih lumayan, tetapi sebenarnya pemuda itu berwatak seperti pembunuh berdarah dingin!
Orang yang melihatnya tidak akan berprasangka buruk karena wajah dan penampilannya sedikit menolong. Sehingga, sekuriti yang terlihat mondar-mandir di setiap lantai mal tidak menaruh curiga apa-apa bahwa ada seseorang yang sedang merencanakan aksi kejahatan kepada gadis incaran di depannya.
Andin masuk ke dalam sebuah toko buku, berjalan di setiap lorongnya untuk mencari novel yang dicari. Ada beberapa pengunjung lainnya yang sepertinya memiliki tujuan yang sama. Salah satunya adalah seorang pemuda yang berlagak seperti anak kampus. Seolah sedang mencari buku untuk keperluan disertasinya, pemuda itu terus berada di belakang Andin.
Setelah berhasil mendapatkan novel yang dicari, Andin sekarang sudah terlihat duduk di pojok restoran untuk menikmati sajian makanan khas Jepang kesukaannya. Sambil menunggu pesanan datang, Andin menyempatkan diri membaca novel yang baru dibelinya tadi.
Belum banyak pengunjung yang datang ke restoran ini sehingga suasananya masih terasa lengang, mungkin karena masih pagi. Namun, suasana seperti ini justru disukai oleh Andin karena tidak terlalu berisik oleh celotehan remaja yang biasa datang bergerombol. Andin bisa lebih menikmati makanan yang tersaji tanpa terganggu oleh siapa pun.
Tapi siapa nyana, suasana sepi seperti ini juga ditunggu dan diharapkan oleh Arphan untuk dapat melancarkan aksinya dengan jurus maut yang dimilikinya. Rupanya Arphan sudah memiliki ide. Arphan akan menyapa Andin dengan berpura-pura sebagai karyawan restoran.
Akal bulus yang direncanakan ini tidak akan disadari oleh Andin. Gadis itu bakal terperangkap dalam rayuan tipu muslihat yang akan dilancarkan sesaat lagi.
Dengan penampilan yang sangat percaya diri tanpa merasa ragu sedikit pun, bak seorang aktor kesiangan, Arphan mulai beraksi!
Jurus jitu pertama dilancarkan. Arphan berpura-pura sebagai pegawai restoran, lalu mendekati meja Andin yang sedang asyik menikmati suapan terakhir sarapan paginya, kemudian langsung menyapanya.
"Selamat pagi, Mbak. Saya karyawan di sini. Sepertinya Mbak sering datang ke restoran kami.